Senin, 02 April 2012

PURA PENATARAN KEBON AGUNG. SEKILAS SEJARAH EVOLUSI AGAMA HINDU

PURA PENATARAN KEBON AGUNG.     
SEKILAS SEJARAH EVOLUSI AGAMA HINDU.
Oleh
Jero Mangku Pica.
BAB.I
PERADABAN LEMBAH SUNGAI SINDHU
( 3000 SM – 2000 SM )
       Pada mulanya sejarah India kuno atau Sejarah Hindu umumnya dianggap sejarah agama weda orang-orang Arya ( Vedic Aryan) akan tetapi setelah Sir JohnMashall menemukan peninggalan sejarah di Harappa dan Mohenjodaro pada akhir abad ke 20 anggapan itu mulai terbantahkan dan sebelum kedatangan bangsa Arya, penduduk asli India adalah suku bangsa Dravida yang mempunyai cirri-ciri berkulit hitam, berhidung pesek, berrambut kriting dan berbadan pendek ( Mahajan, 1960;Majumdar 1998;Macmillan (ed), 2002:22 ).
Bukti-bukti yang diyakini para ahli sejarah India sebagai tinggalan peradaban bangsa Dravida yang kemudian disebut peradaban lembah Sungai Sindhu ( Indus Civilization) atau peradaban Harappa ( Harappa Civilization) yang berlangsung sekitar tahun 3000 SM sampai 2000 SM.
Agama Lembah Sungai Sindhu (Indus Religion ) memberikan catatan penting bagi sejarah evolusi agama Hindu di India dan ajarannya banyak mempengaruhi agama dan kebudayaan weda yang berkembang belakangan bersamaan dengan kedatangan orang Arya ke India cirri-cirinya:
1.      Pemujaan kepada Dewi Ibu ( Mother Goddess): Orang-orang yang hidup di lembah sungai Sindhu percaya bahwa Mother Goddess atau kekuatan perempuan  (Shakti) merupakan sumber dari semua ciptaan  ( Mahajan , 1960:67-68; kundra,1968)
2.      Pemujaan kepada Dewa Purusha ( Male God ) : Dengan ditemukannya suatu ukiran yang berwujud manusia bertannduk dua memakai ikat kepala dan dikelilingi beberapa binatang, wujud ini dianggap sebagai prototip Shiwa Pasupati atau dewa penguasa binatang buas.
3.      Pemujaan Lingga ( Ithy-Phallicism); ditandai dengan penemuan batu berbentuk phallus ( alat kelamin laki-laki) yang berbentuk kerucut ( conical) dan silinder(cylinder)
4.      Pemujaan kepada Pohon dan Binatang : dibuktikan dengan penemuan gambar-gamar pohon bersama-sama dengan wujud manusia dengan atribut-atrbutnya.
5.      Pemujaan patung atau Arca ( Iconism) ; merupakan salah satu yang terpenting dalam kebudayaan Lembah Sungai Shindu yang tidak dikenal dalam agama Weda(Luniya,2001;33).ditandai dengan ditemukannya sebuah patung yang menyerupai seorang yogi,dengan cirri-ciri mata memicing melihat ujung hidung( Mahajan,2002;63).
6.      Upacara Kurban dibuktikan dengan ditemukannya sebuah lukisan seorang laki-laki mengangkat sabit (clurit) dan didepannya duduk seorang perempuan dalam sikap menyembah. Ini diperkirakan sebagai upacara kurban manusia sebagai persembahan untuk memohon kesuburan (Marshall,1931;mackay,1935).


BAB.II
ZAMAN WEDA
( 2000 SM- 1000SM )

Peradaban lembah Sungai shindu dilanjutkan oleh yang menyebut dirinya bangsa Arya yang datang memasuki India dari barat laut India melalui Hindu-Kush atau Khaiber Pass kemudian menetap diantara lembah sungai Shindu dan sungai Saraswati(Mahajan,1960;96-101).
Secara fisik orang Arya berkulit putih, tinggi ,hidung mancung dan sangat atraktif, secara genetis memiliki kesamaan dengan orang-orang Inggris,jerman,Iran dan sebagian India. Orang Arya sudah memiliki kebudayaan tinggi pada jaman itu, walaupun mereka hidup nomaden. Bangsa Arya dianggap sebagai pembawa dan penyebar agama Weda ( Vedic Religion) di India.
a.       Sekilas Tentang Weda.
Kata Weda berasal dari urat kata”Wid” yang artinya pengetahuan atau mengetahui (Manni,1975;43),Weda diyakini bersumber dari wahyu Tuhan yang didengar langsung oleh para maharsi sehingga disebut sruti,Dengan demikian Weda bukanlah buatan manusia(apuruseya). Pengajaran  dan pewarisnya dilakukan secara lisan ( Guruparampara). Weda berjumlah Empat yakni  Rig Weda samhita, sama weda Samhita, Yayur Weda samhita dan Atharwa weda Samhita.
Selain itu juga terdapat Weda-weda minor( Upaweda) dan badan-badan Weda ( Wedangga) yang bersumber dari kitab suci Weda.Kitab suci Weda terdiri atas bagian-bagian, sebagai berikut.
(a)     Kitab-kitab Mantra Samhita dari catur Weda.
(b)   Kitab-kitab Brahmana yang dikaitkan dengan setiap Weda Samhita.
(c)    Kitab-kitab Aranyaka yang dikaitkan dengan setiap Weda Samhita.
(d)   Kitab-kitab Upanisad atau kitab Wedanta yang dikaitkan dengan setiap Weda Samhita.
Kitab Samhita merupakan buku-buku yang isinya berupa”kumpulan nyanyian pujian”atau himne yang harus diucapkan atau dinyanyikan untuk memuji kebesaran dari para dewa, serta memohon perlindungan dan anugrahnya.
Rig Weda adalah Weda yang tertua di antara empat Weda yang lain dan pada mulanya Weda diajarkan secara lisan oleh Para Maharsi, kemungkinan besar Weda tidaklah tersusun secara sistimatis.Baru kemudian Weda dikodifikasikan menjadi empat, disebut catur Weda samhita.Secara tradisi diyakini bahwa penkodifikasikan Weda dilakukan oleh Maharsi Wyasa bersama keempat muridnya, yaitu Pulaha,Jaimini,Waisampayana, dan Sumantu( Agni Purana,Bab 150).yang dilakukan antara tahun 1.500 SM – 1.000 SM. Zaman Weda umumnya dibagi menjadi dua periode, yaitu Zaman Rig Weda atau Zaman Weda Awal ( Early vedic Period), dan Zaman Weda Akhir ( Later Vedic Period) ( Majumdar, 1998;65 dan 74)
2.2. Zaman Rig Weda atau Zaman Weda Awal ( Early Vedic Period) ; Dengan Ciri-ciri yang terpenting dari agama Rig Weda dapat dilihat dari konsep ketuhanan dan ritual yang dilaksanakan sebagai berikut.
1)      Konsep Ketuhanan Rig Weda adalah Henoteisme, Kathenoteisme,Politeisme, Monoteisme dan monisme ( Griswold,1999;342-347;Chatterjee, 1970;13-14).Percaya kepada banyak Dewa, tetapi ada satu Dewa Tertinggi sebagai peminpin dari Dewa-Dewa yang lain.Dewa Tertinggi diyakini sebagai sebagai pencipta, pemeihara pelindung , pemberi kebahagiaan dan juga kekayaan kepada manusia.Dalam beberapa suku Arya terkadang Dewa tertinggi berbedabeda sihingga ada banyak Dewa tertinggi.
Adapun Dewa yang dipuja dalam Agama Rig Weda adalah dewa-dewa Prakerti( Natures God) seperti pemujaan kepada dewa Surya, Usha,Indra,Parjana,Wayu dan lain-lain dan berjumlah 33 (Tribhir Ekadasai) ( Mac Donell,1991:19). Dyausbadalah Dewa yang bersinar di Sorga dan Prthiwi adalah Dewi bumi yang merupakan dewa trtua didalam Rig Weda.
Selain percaya kepada Dewa-dewa , agama rig Weda jugapercaya adanya leluhur, dalam kepercayaan Rig Weda leluhur memiliki kedudukan tersendiri di alam para dewa.
Pada mulanya Agama Rig Weda dipandang sebagai politeisme, tetapi pendapat ini mulai diluruskan mengingat sloka terakhir dari Rig Weda jelas sekali menunjukkan bahwa kepercayaan dari agama Rig Weda mengarah pada Monoteisme, bahkan monism( Griswold, 1999;342-347) dalam Rig Weda Mandala X yang menyatakan bahwa “ yang ada berasal dai yang tidak ada dan yang nyata muncul dari yang tidak nyata”dan juga dijelaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu Esa tetapi memiliki banyak nama.
2)      Ritual
Upacara Soma merupakan pusat dari ritual agama Weda, selain menjadi persembahan juga dipuja sbagai dewa,sama halnya dengan saraswati yang dipuja sebagai dewa sungai dan dewa pengetahuan.
Ciri lainnya bahwa pada zaman ini juga dikenal adanya binatang yang disucikan , tetap ada juga yang dikurbankan seperti, sapi, kambing,kerbau,binatang-binatang buruan , ular dan burung-burung ( Thapar,1979;41). Sapi selain dikurbankan juga disucikan pendapat ini disampaikan oleh Vivikananda dan JW Nehru. Didalam rig Weda ada mantra yang diucapkan pendeta sebelum upacara kurban dilakukan,sebagai berikut.
       “ Engkau tidak disakiti, enkau tidak dibunuh, engkau tidak mati, engkau akan pergi ketempat para dewa melalui jalan yang benar dan indah “ ( Griffith,1979:229;Puja,1979:334)
“Engkau akan dijemput dengan kereta indah, yang ditarik oleh kuda-kuda milik Dewa Indra, kuda milik Dewa Maruta, dan kuda milik Dewa Aswin, dan para dewa juga akan menemanimu pergi ke sorga ‘ ( Puja, 1979;334)


Berdasarkan Sloka diatas maka menurut Rig Weda,upacara kurban binatang bertujuan untuk :
a)      Membantu binatang kurban untuk mendapat sorga tempat para dewa.
b)      Membebaskan dosa-dosa binatang sehingga bisa menjelma kembali menjadi mahluk yang lebih mulia.
c)      Membebaskan dosa-dosa orang yang melaksanakan yadnya.
Pada jaman Rig Weda (X.15.14)juga dilaksanakan Upacara kematian yaitu dengan jalan dibakar (Agni Dagdha) dan dikubur (Anagni Dagdha), Agama Rig Weda juga mengajarkan yadnya kepada para leluhur, dan tidak mengajarkan pembuatan dan penyembahan  patung(Luniya, 2002;41). Rig Weda tidak menganjurkan untuk pembuatan tempat pemujaan atau kuil-kuil,mereka sembahyang memuja Tuhan di tempat terbuka atau altar ( Mahajan, 1960;127)

2.3  .  Zaman Weda Akhir ( Later vedic period )
Merupakan pembabakan sejarah kedua dalam agama weda (vedic religion).Zaman Weda Akhir berlangsung sekitar tahun 1.000 SM atau 600 SM ( Sharma, 2001;51;Mahajan,1960;127).
Petunjuk keagamaan orang Arya pada zaman ini dapat dijumpai dalam kitab suci Sama Weda, Yayu Weda,dan Atharwa Weda, termasuk juga kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad( Khanna,1975;23)
Pada zaman sama Weda kehidupan ekonomi Bangsa Arya mulai membaik dan berpengaruh membaiknya perkembangan agama weda sehingga kedudukan pendeta menjadi sangat penting demikian pula awal lahirnya sistem kasta ( caste system )di India yang didasarkan pada konsep Catur Warna yaitu pelapisan masyarakat yang berdasarkan keturunan atau warisan bukan berdasarkan atas profesi.( Sharma,2001;54;Majumdar,1998;88) dan pada jaman ini mantra-mantra mulai dinyanyikan tidak hanya pada upacara keagamaan saja.Nyanyian-nyanyian suci itu dikodifikasikan menjadi bentuk kitab suci baru yang disebut kitab suci Sama eda ( Datta, 1950;147-158).
Setelah berhasil mengkodifikasikan kitab Suci Sama Weda , mulailah dikumpulkan sloka-sloka suci lainnya dalam bentuk baru yang disebut kitab suci Yayur Weda dan Zaman ini pula disebut zaman Yayur Weda . Perubahan atau evolusi yang sangat penting pada zaman Yayur Weda adalah perubahan kehidupan social ekonomi bangsa Arya yang sudah berhasil menguasai seluruh India sehingga muncul Negara-negara jajahan oleh karena itu mulai muncul upaya mempertahankan dan mengukuhkan kekuasaan sehingga disusunlah kembali cara-cara untuk melaksanakan kurban suci (yajna).
Kitab suci yang berisikan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan setiap upacara yajna lengakap dengan mantra-mantrapemujaan inilah yang disebut Yayur Weda.Yayur Weda dibagi atas dua bagian penting yakni Krisna Yayur Weda ( yayur Weda Hitam ) dan Sukla Yayur Weda Yayur Weda Putih). Ada beberapa jenis yadnya yang dilaksanakan pada zaman ini,antara lain ; Gosawa,Rajasuya,Wajapeya, Goghana,Caturmasya,Nirruddha pasu bandha, Maduparka,Gawamayana,Sarwamedhayajna,Naramedhayajna,Homa atau Agnihotra, dan kedudukan pendeta pada zaman ini sangatlah penting karena berkaitan dengan keberhasilan yajna yang dilaksanakan.
2.4. Zaman Atharwa Weda.
        Secara tradisi dari zaman Sathapatha Brahmana sampai dengan zaman manu Samhita atau zaman Smrti,kitab suci Atarwa Weda tidak diakui sebagai kitab suci oleh para pendeta ( Mahajan, 2002;1060),hanya kitab suci Rig Weda, sama Weda, dan Yayur Weda yang diakui dan ketiganya disebut kitab suci Trayi Weda atau Trayi-Widya berarti tiga kitab suci Weda ( Datta,1950;6-10}. Baru kemudian pada zaman Maurya yaitu zaman kebangkitan agama Hindu ( Revival of Hindism) pada zaman Brahmana, maka Atharwa Weda diakui sebagai bagian dari weda,sejak zaman inilah kitab suci Weda disebut Catur Weda. Dengan diterimanya kitab suci Atharwa Weda sebagai bagian dari Catur Weda Samhita menunjukkan terjadinya sinkritisme agama Arya dan Dravida ( Sharma,2001:107;Luniya,2002;53).
2.5 Keadaan Agama Hindu pada Zaman Weda Akhir ( Later Vedic Period).
Selama upacara yajna berlangsung keempat kitab suci Weda ( Catur Weda ) diucapkan dan dinyanyikan . Mantra-mantra dalam kitab Suci Rig Weda diucapkan oleh pendeta yang disebut Hotri,Sama Weda disebut Udgatri, Yayur Weda disebut Adwaryu,Atharwa Weda dinyanyikan oleh pendeta yang disebut Brahmana dan Brahmana ini sebagai pemimpin upacara yajna ( Macmillan (ed),2001;50)
Ciri penting lainnya bahwa upacara yanja harus dilakukan berdasarkan petunjuk dari kitab suci Yayur Weda dan ada lebih sepuluh macam yajna besar yang harus dilakukan salah satunya adalah Upacara caturmasya yanja yang bertujuan memuja Dewa waruna. Pada Zaman weda Akhir ini adalah mengenai atribut upacara,dimana dalam Yayu Weda, mandala X , disebutkan bahwa umat yang melaksanakan upacara harus memakai Mekhala ( sjenis Selempot di Bali ) dan juga memakai Ushnisha yaitu sejenis destar atau semacam “ Ketu “ yang dipakai dikepala ( Macmillan (ed), 2001;30 ). Di samping itu jugadisebutkan bahwa dalam pelaksanaan sebuah yajna para pendeta mengenakan pakaian putih, kuning atau merah ( Datta, 1950).
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat dijelaskan karakteristik agama Weda ( Vedic Religion) ( Kundra, 1968;34;Sharma,2001:0) sebagai berikut.
1.      Percaya adanya banyak Dewa, tetapi juga percaya kepada Tuhan Yang Esa.
2.      Percaya adanya leluhur.
3.      Pentingnya pembacaan kitab Suci Weda.
4.      Pentingnya melaksanakan Upacara Yajna kurban.
5.      Pentingnya melaksanakan upacara kematian.
6.      Pentingnya kedudukan pendeta.
7.      Tidak menyembah patung.
8.      Tidak membuat tempat ibadah (kuil)
9.      Agama Weda bersifat Optimistik, agama rasa, agama kepuasan hati dan bhakti.
10.  Moksha dan sorga hanya dapat dicapai melalui yajna ( Rajeev,1990;17)

 BAB. III
ZAMAN BRAHMANA
( 1.000 SM – 300 M )
       Zaman ketika pengkodisikan kitab Catur Weda sudah selesai dilakukan.Para rshi sudah tidak mendapat wahyu lagi dan orang arya sudah mulai menyebar ke arah timur dari kekediamannya semula. Pada zaman ini pula Kitab Suci catur Weda mulai ditafsirkan untuk pertama kalinya oleh manusia dan tafsiran pertama dari kitab suci Catur Weda ini disebut kitab-kitab Brahmana yang memegang peranan penting didalam pelaksanaan agama Hindu di India pada masa itu.Agama Weda digantikan dengan agama Brahmana dengan adanya ciri-ciri penting dalam agama Brahmana yang sebelumnya tidak muncul pada zaman Weda.Dalam zaman Brahmana terjadi berbagai peristiwa keagamaan di india yang menyebabkan terjadinya evolusi dalam agama Brahmana pada periodisasi tertentu dan para ahli membagi menjadi tiga zaman, yakni
1.      Zaman Kejayaan Agama Hindu ( 1.000 SM- 600 SM ), zaman ini dibagi lagi menjadi tiga                                                                                                                             periode penting, yakni periode Brahmana, periode Aranyaka, dan periode Upanisad.  
2.      Zaman Kemunduran Agama Hindu ( 600 SM-200 SM ), ditandai dengan zaman kejayaan agama Buddha di India.
3.      Zaman Kebangkitan Agama Hindu ( 200 SM – 300 M) ditandai dengan kebangkitan kaum Brahmana melawan dominasi agama Buddha.

3.1    Zaman Kejayaan Agama Hindu ( 1000 SM – 600 SM ).
A.    Periode Brahmana ( Brahmanical Period) : Zaman Brahmana merupakan perluasan dan tersebarnya agama Brahmana dan kebudayaan brahmana ( Hindu ). Kehidupan masyarakat India pada zaman ini cukup sejahtera dengan ekonomi yang kuat.Pada Zaman ini pembagian warna dalam arti kasta sudah berkembang sangat kuat dan tanah-tanah sudah dimiliki oleh golongan bangsawan ( Sharma, 2001:61-64;Sharma;2002;44;Luniya,2002:55). Kehidupan agama juga mengalami perkembangan yang menakjubkan, setiap yajna yang disebutkan dalam Catur Weda ditafsirkan secara teliti dan ditulis kembali dalam kitab tersendiri, kitab-kitab hasil penafsiran inilah yang disebut kitab-kitab Brahmana.Setiap Weda memiliki Kitab Brahmananya sendiri dan ditulis dengan bahasa sansekerta klasik menggantikan bahasa Sansekerta Weda.Kitab yang terpenting dari semua kitab Brahmana adalah kitab Satapatha Brahmana.Semua Upacara dikembangkan,diperluas dan dirinci tiada habis-habisnya, kemudian dihubungkan dengan arti dan makna mistisnya, Golongan Pendeta pada zaman ini memusatkan seluruh pikirannya untuk menemukan makna mistis yang terkandung dalam tatacara upacara ritualnya, kemudian diwujudkan dalam wujud upacara-upacara dan upakara keagamaan yang sangat mengagumkan dan juga sangat rumit yang belum pernah terjadi atau diciptakan oleh manusia di dunia ini dan ini mengingatkan pada agama Hindu sperti diwarisi dan dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali pada saat ini.
B.     Periode Aranyaka( Aranyaka Period).
Bersamaan dengan berlangsungnya zaman Brahmana dengan kehidupan yang mapan memberikan ruang bagi para Rshi untuk merenungkan aspek keagamaan yang terdapat dalam Catur Weda dengan pergi kehutan membawa kitab suci untuk dibaca ,dibahas dan direnungkan berulang-ulang, ini juga diikuti oleh orang orang kota seperti raja, pedagang dan pangeran  dan membuat kekacauan social karena banyak rang yang meeninggalkan kewajibannya. Untuk itu kaum brahmana menegaskan kembali ajaran catur asrama yang harus dipatuhi dengan maksud agar orang-orang tidak pergi kehutan dan meninggalkan kewajiban sosialnya.Dalam perenungan para Rshi ternyata ditemukan bahwa Sorga dan moksa tidak saja dicapai dengan melaksanakan yajna tetapi juga dengan tapa, bratha dan semadhi( Majumdar,1998:84;Sharma,2001;59). Hasil perenungan – perenungan inilah yang kemudian ditulis kembali oleh para Rshi dan pendeta di hutan-hutan (aranya0 sehingga disebut Aranyaka.Jadi pada zaman ini ajaran Weda sitafsirkan secara Upasana Kanda.
C.     Periode Upanisad ( Upanisadic Period )
Perkembangan pemikiran pada zaman Brahmana mengalami puncaknya pada zaman Upanisad , sekitar tahun 800 SM atau 600 SM, zaman ini ditandai dengan munculnya pemikiran filosofis dan logika untuk mengungkap misteri alam semesta dan asfek metafisis lainnya.
Mantra-mantra dalam kitab suci Rig Wedadan kitab Aettariya Brahman menyebutkan bahwa dunia ini muncul dari yajna, dipelihara dengan yajna dan pergi kesorga dengan yajna, para Rshi mulai meragukan kebenaran dari pernyataan tersebut sehingga mulai untuk melakukan penyelidkan yang lebih luas dan lebih dalam.
Ajaran Upanisad muncul sebagai penafsiran mendalam dan radikal terhadap isi Kitab Suci Catur Weda, Jumlah seluruh kitab upanisad dari yang tertua hingga yang termuda adalah 108 ( seratus delapan ) buah dan 12 yang dipandang penting yaitu Aitereya, Kausitaki (Rig Weda),: Kena. Chandogya (Sama Weda),Swetaswatara,Taittriya, Brhadaranyaka, Isa, Ktha, Mandukya (Yayur Weda); dan Prasna, Mundaka ( Atharwa Weda) ( Winternitz,1990).
Dengan demikian cirri utama dari zaman Upanisad adalah munculnya ajaran tentang Brahman,Atman,Hukum Karma,samsara atau punarbhawa dan Moksa
3.2    Zaman Kemunduran Agama Hindu ( 600 SM – 200 SM)
Agama Brahmana ditandai dengan munculnya penafsiran terhadap kitab suci Catur Weda yang melahirkan kitab-kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, namun demikian penafsiran ini hanya dilakukan oleh para Rshi yang memiliki otoritas untuk itu dan berlangsung dalam tradisi perguruan ( Guruparampara) yang ketat yang merupakan ajaran rahasia antara guru dan murid. Ini ditegaskan dengan kata “Upanisad” yang berarti “duduk dekat dengan guru”untuk menerima ajaran-ajaran mengenai rahasia ketuhanan (Brahma rahasyam) ( Mahajan,2002;108;Macmillan(ed),2001;51). Kondisi ini berbeda dengan peristiwa keagamaan Hindu di India yang terjadi pada sekitar abad ke-6 sebelum masehi dimana Kitab Catur Weda dipelajari secara terbuka dan bebas ditafsirkan oleh siapapun dan kebebasan ini memunculkan beberapa agama dan aliran yang pada akhirnya tidak mengakui otoritas Weda sebagai Kitab Suci. Aliran ini adalah Buddha,Jaina,Charwaka,Ajiwika,Prawrajika,Nirganta, dan lain sebagainya.
Dari sekian banyak aliran (reformation movement) yang muncul pada zaman ini, agama Buddha rupanya memegang peranan penting dalam evolusi agama Hindu di India,ajaran agama Buddha tidak pernah membicarakan keberadaan Tuhan ( Thapar,1997;66), Agama Buddha lebih menekankan ajarannya sebagai “Way of life”(pandangan hidup),yakni jalan hidup luhur dan saleh. Ia menentang segala dogma agama yang berlaku, tetapi menjunjung tinggi jalan rasional ,kebijaksanaan, dan perkembangan spritualitas . Bagi agama Buddha , tujuan hidup tertinggi adalah pembebasan Atman dari ikatan keduniawian sebagai penyebab penderitaan (duhka). Hanya dengan mengetahui sumber duhka dan jalan melenyapkannya orang akan mencapai kebebasan dari kelahiran dan kematian yang disebut “Nirwana”. Agama Buddha menentang kebenaran  Weda ,mengutuk korban binatang, menentang upacara ritual yang dianggap tidak ada artinya, menentang catur warna (kasta) dan menentang kekuasaan para pendeta (Luniya,2002:93).Ajaran Buddha yang cukup sederhana mampu menarik simpati rakyat India pada waktu itu sehingga sebagian besar orang-orang Hindu (beragama Brahmana) beralih agama ke agama Buddha dan dapat dikatakan bahwa zaman ini adalah zaman keemasan agama Buddha(The Golden Age of Buddhism) di India.peristiwa ini mengakibatkan agama di india pecah menjadi duangolongan yaitu golongan ortodoks dan golongan rasionalis dimana golongan ortodoks yang masih menganut agama Brahmana sebaliknya golongan rasionalis adalah penganut agama Buddha,Jaina,dan sebagainya yang menentang agama Brahmana. Dengan meluasnya pengaruh golongan rasionalis ini maka agama Brahmana mengalami kemunduran  yang luar biasa sehingga disebut zaman Kemunduran Agama Hindu.
3.3    Zaman Kebangkitan Agama Hindu (Revival of Hinduism) ( 200 SM – 300 M )
Zaman keemasan agama Buddha di India telah merubah wjah sejarah India bukan saja sejarah agama tetapi juga sejarah politik dan kebudayaan, bahkan agama Buddha ditetapkan sebagai Negara. Raja saat itu memperlihatkan sikap anti terhadap agama Hindu (Brahmana) dan melarang seluruh upacara yajna yang menggunakan kurban binatang pada waktu-waktu tertentu dan ini berlangsung sampai akhir abad ke-3 masehi.
Kemudian pada abad ke-2 sebelum masehi kaum brahmana bangkit mengadakan pemberontakan melawan kerajaan Magadha yang beragama Buddha, diman pada zaman ini terjadi pemberontakan dari golongan agama Hindu yang dipimpin oleh Pushyammitra seorang brahmana yang menjabat senapati di kerajaan Magadha, Pusyamitra berhasil membunuh raja terakhir dari Dinasti Maurya dan mendirikan dinasti Brahmana yang disebut Sungga ( Majumdar,1998;116-117).
Pusyamitra menjadi pelopor yang mendobrak dan memusnahkan pengaruh agama Buddha di India dan membangkitkan kembali pelaksanaan ritual seperti, upacara Aswamedhayajna –upacara terbesar dalam agama Hindu, serta menolak ajaran Ahimsa juga munculnya mazhab-mazhab yang berdasarkan agama Brahmana terutama mazhab Wasudewa disebut juga mazhab Waishnawa, dan mazhab Shiwa.Demikian lah pada zaman kebangkitan agama Hindu (Revival of Hinduism) terjadi banyak perubahan dalam kehidupan keagamaan masyarakat India seperti dewa-dewa yang sebelumnya dianggap tidak penting menjadi  penting dan dipuja oleh masyarakat India seperti Dewa Wishnu, Shiwa dan lain-lain. Dalam kesusastraan mulai ditulis sastra-sastra di luar kitab suci Weda seperti kitab –kitab suci baru yang disebut dengan nama pancama Weda ( Weda kelima) yaitu Itihasa( Ramayana) dan Mahabharata ),Bhagawad Gita, Shwetaswatara,kitab-kitab Purana yang dapat dibaca oleh masyarakat umum dan dikatakan bahwa kesuciannya sama dengan kesucian kitab suci Weda.Dan zaman ini berkembang juga system filsafat Hindu yang bersumber dari kitab-kitab Upanisad dan kitab-kitab Brahmana yang berisi ajaranajaran tentang upacara yajna dan ritual lainnya.
Dalam sosial keagamaan pada zaman ini terjadi pengakuan terhadap semua adat istiadat di daerah dan penegakan hukum bersumber dari adat yang berlaku dimana kitab  Dharmasastra menjadi kitab hokum Hindu yang juga menjadi sumber hokum social India pada zaman itu.

 BAB. IV
ZAMAN PURANA ; ZAMAN KEEMASAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU  
  ( 300 M – 700 M )
Dalam masa keemasan dan kebangkitan agama Hindu di India yang merupakan kelanjutan dari zaman Brahmana akhir (200 SM – 300 SM )salah satu cirri terpenting adalah munculnya mazhab-mazhab dalam agama Hindu seperti mazhab Waishnawa yang mengagunkan Dewa Wasudewa yang disamakan dengan Dewa Wisnhu dalam Weda, sedangkan mazshab Shiwa mengagungkan Dewa Shiwa yang disamakan dengan Dewa Rudra dalam Weda9 Thapar,1979;1610.Selain itu muncul mazhab besar lainnya yaitu Shakta ( pemuja Shakti),Ganapatya(pemuja Ganesha),dan Sora(pemuja Surya(Majumdar,1998:171). Kelima mazhab ini disebut Panca Sakha atau Panca Upasakha atau Panca Yatanapuja.Kelima mazhab tersebut tidak ada perbedaan yang tegas dan lebih tepat disebut sebagai bentuk  pemujaan ista dewata. Kesusastraan Hindu yang penting di zaman ini adalah kitab-kitab Purana, secara tradisi , diyakini bahwa kitab Purana ditulis oleh Maha Rshi Wyasa dan umumnya disebut Pancama Weda.Bermunculannya kitab-kitab purana seiring dengan tumbuh-suburnya mazhab-mazhab dalam agama Hindusehingga zaman ini disebut zaman Purana. Adapun agama Hindu pada zaman ini disebut agama Purana (Puranic religion). Dalam agama Brahmana menitikberatkan pelaksanaan agama pada yajna dan persembahan kurban binatang sedangkan dalam agama purana justru bersifat sectarian artinya muncul banyak sekte yang secara tegas berbeda antara sekte yang satu dengan sekte yang lainnya ,antara lain memiliki nama Tuhan yang berbeda,memiliki kitab suci tersendiri ,memiliki sadhana sendiri, doktrin ajaran sendiri,memiliki pemujaan khas,memiliki ajaran moksa sendiri dan memilki system filsafat sendiri ( Rajee, 1990). Mazhab waisnawa dan Shiwa mengalami perkembangan pada zaman Purana ini karena pengaruh dari agama Bhudha seperti ahimsa,vegetarian,pembangunan kuil-kuil dan sapi mulai disucikan yang pada akhirnya menjadi bagian dari ajaran mazhab Waisnawa, sedangkan lembu disucikan oleh penganut Shaiwa. Dengan adanya perbedaan ajaran yang mendasar dari kedua mazhab ini maka agama Hindu pecah untuk kedua kalinya.Maz   hab Waishnawa dan Shiwa saling bertentangan untuk mempertaruhkan prinsip-prinsip kepercayaannya masing-masing dan pada zaman ini muncul pula mazhab lain sebagai penengah yang disebut Mazhab Brahmana-Smarta pada abad pertama sebelum masehi, mazhab ini mengajarkan penyembahan pada Dewa Trimurti, yaitu Brahma, Wishnu dan Rudra ( Majumdar, 1998:177;Rajeev,1990:27).Mazhab yang menyembah Trimurti( Brahma, Wishnu,Shiwa) ikut menyebar ke Indonesia bersama dengan mazhab Shiwagama dan Waishnawagama, dan zaman Purana ini memang tepat disebut zaman keemasan agama Hindu, mengingat sudah mulai tersebar ke seluruh India, bahkan juga ke Indonesia sejak abad pertama masehi (Kundra, 1968;187;Luniya,2002;189). Tantrayana berpengaruh sangat kuat dalam masyarakat bahkan mampu mempengaruhi seluruh mazhab yang ada dalam agama Hindu, munculnya ajaran Tantrayana menjadi cirri penting pada zaman Purana ini dan cirri-ciri dari ajaran Tantrayana yaitu moksa dapat dicapai dengan sadhana(disiplin rohani), mempersembahkan sarana pancatattwa,yaitu persembahan biji-bijian (mudra), daging(mamsa),ikan(matsya), minuman keras (mada), dan symbol-simbol lingga-yoni(maithuna;melalui bhakti;yogatantra;dan dengan memndapatkan anugrah Shiwa. Elain itu juga tantrayana menganjurkan persembahan kurban binatang seperti kerbau,kambing,burung,dan lain-lain.Apabila diamati lebih jauh hakikat ajaran Tantrayana memiliki keserupaan dengan praktik agama Hindu di Indonesia, ini dapat dibenarkan dengan datangnya agama Hindu ke Indonesia pada abad pertama masehi adalah semua mazhab yang muncul pada zaman Purana, terutama mazhab Shiwagama atau Shiwatantra dan Waishnawagama atau waishnawatantra.Kedua mazhab ini menekankan ajaran untuk melaksanakan yajna(korbanbinatang) dan Panca Tattwa sebagai salah satu sarana dan sadhana mencapai moksa.Lain itu pula bahwa agama hndu di Indonesia juga mewarisi filsafat Shiwa Sidhanta yang berkembang di India selatan.Ciri penting lainnya adalah munculnya pemujaan Pancayatana Puja(Bali;Pangider-ider).

 BAB.  V.
ZAMAN REFORMASI HINDU (ZAMAN SANGKARACHARYA)
( 700 M – 1.200 M)
Akhir zaman Purana ditandai dengan terjadinya kekacauan diantara umat Hindu, akibat pertentangan yang hebat antara satu mazhab dengan mazhab yang lainnya, setiap mazhab membenarkan prinsip-prinsip kepercayaan dan ajaran dari mazhab mereka sendiri dan menyalahkan kebenaran dari mazhab yang lain.Pertentangan yang terjadi tidak terlepas dari semakin berkembangnyatradisi filsafat di India (darsana). Salah satu filsafat yang penting pada zaman ini adalah Mimamsa.Inti dari filsafat Mimamsa adalah pengukuhan kesucian Weda bagian Brahmana yang menekankan pada upacara agama (Karma Kandha).Ajaran ini bersumber dari kitab Mimamsasutra yang ditulis oleh Maharshi Jaimini. Ajaran Mimamsa mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai sorga atau moksha adalah upacara yajna ( Karma Kanda )dan persembahan kurban, dimana Raja-raja dinasti Gupta terpengaruh untuk membangkitkan upacara-upacara yajna yang ada dalam Weda. Pada masa ini ritualisme menjadi agama nasionalis(Rajeev.1990:29).Hampir bersamaan dengan zaman ini ,muncul aliran filsafat lain yang disebutUttaramimamsa atau Wedanta yang mendasarkan ajarannya pada kitab Wedantasutra yang ditulis oleh maharshi Badarayana. Kehadiran golongan Wedantistelah menyebabkan pembaharuan besar dalam keagamaan Hindu (Reformation of Hinduism) di India pada zaman itu dan membuat gerakan untuk mensistematisasikan ajaran agama Hindu, secara rasional dan radikal dengan demikian kitab suci Weda lebih mudah dipahami dan dapat diterima oleh masyarakat umum.Salah satu pelopor gerakan ini adalah seorang Brahmana asal keladi kerala,India Selatan yang bernama Sangkaracharya(788 M – 820 M).Sangkaracharya memiliki kecerdasan yang luarbiasa dalam bidang ajaran Shiwa Paksa dan berhasil menguasai Catur Weda dan susastra-susastra Hindu lainnya.Sangkaracharya berhasil mengalahkan pemimpin-pemimpin suatu aliran dalam diskusi spiritual dan mampu memenangkan perdebatan dengan Bhiksu-bhiksu Budda di India sehingga agama Budda berhasil dilenyapkan dari India dengan demikian Sangkaracharya banyak memiliki pengikut yang luar biasa.Dengan semakin berkembangnya ajaran sangkaracharya maka pada zaman ini agama Hindu mengalami  perpecahan untuk ketiga kalinya. Agama Hindu pecah menjadi dua golongan besar (Thapar,1979;261) sebagai berikut.
1.      Golongan Wedanta ( Waidiki-Dharma) yang dipimpin oleh Sangkaracharya dari mazhab Shaiwa dan Ramanuja dari mazhab Waishnawa, yang mendasarkan ajarannyakepada kitab Brahmanasutra,Bhagawadgita, dan Upanisad (Wedanta). Ketiga kitab ini disebut Prasthanatraya dan golongan ini disebut juga golongan rasionalis (Wedantis)
2.      Golongan Tantrayana (Tantrika-Dharma) atau golongan ritual yang dipimpin oleh Rshi Prabhakara,Rshi Madhana Misra, Rshi Kumarila Bhatta dari mazhab Shiwa tantra dan Waishnawatantra yang mendasarkan ajrannya pada upacara atau ritual yang filosofinya diambil dari kitab-kitab Brahmana,Mimamsasutra dan kitab-kitab Tantra (Agama) sering juga disebut golongan Hindu ortodoks (Brahmanisme) , dimana ajarannya ini sering digunakan melawan penganut agama Budda dan penganut ajaran Wedanta atau golongan Wedantis ( Kundra,1968;220;Klostermaier,1998:107). Sejak zaman inilah terjadi pertentangan yang hebat antara golongan Wedanta dengan golongan tantrayana bahkan sampai sekarang.Gerakan yang dilakukan oleh Sangkaracharya dan pengikutnya sangat gencar untuk mereformasi agama Hindu yang menyebabkan ajaran Wedanta tampak begitu menonjol pada zaman ini sehingga para ahli sejarah menyebut zaman ini sebagai zaman Reformasi Hindu atau zaman Sangkaracharya. Ajaran filsafat Adwaita wedanta mengajarkan monism – absolute yang menajarkan bahwa hanya ada satu realitas Tertinggi, yaitu Nirguna-Ishwara atau Brahman, hanya Nirguna-Ishwara yang nyata (sat) ,sedangkan yang lain hanyalah ilusi(maya). Dalam perkembangannya ajaran Adwaita-wedanta yang diajarkan Sangkaracharya mengalami pertentangan dari golongan Wedantis(Waishnawa Movement) dari mazhab waishnawa yang dipelopori oleh Ramanuja. Kemudian filsafat Wisistadwaita juga ditentang oleh pemimpin golongan Waishnawa-wedanta lainnya yang bernama Madhwa yang membangun system filsafat dualismenyayang disebut dwaita-wedanta berdasarkan atas kitab bhagavatam puranam yang menjadi Realitas Tertinggi bukanlah Brahman yang nirguna (tanpa sifat),tetapi Tuhan yang Berpribadi dan memiliki sifat-sifat yang banyak sekali (saguna). Jnana9pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan) akan menuntun orang menuju bhakti.Melalui bhakti manusia akan mencapai tujuan akhir,yaitu melihat langsung Maha wisnu atau Hari yang akan menuntunmenuju moksa,kebahagiaan abadi.Dengan demikian terjadilah perbedaan prinsip filsafat dan perpecahan pun terjadi dalam golongan Waishnawa-wedanta,masing-masing membangun garis perguruan yang disebut Sampradaya, dan memuja Krishna sebagai Tuhan. Mazhab Waishnawa-wedanta memiliki empat Sampradaya yaitu Sampradaya Shri-Waishnawa (Waishnawa Ramanuja),Sampradaya Brahma (Waishnawa Madhwa),Sampradaya  Rudra (Waishnawa wallabha),Sampradaya Kumara(Waishnawa Nimbarka), nama-nama tersebut tidak ada hubungannya dengan Shiwa. Mazhab Shaiwa yang kena pengaruh ajaran Tantrayana(Shaiwatantra atau Shaiwagama) juga mendasarkan ajaran filsafatnya pada Filsafat Adwaita(monisme-absolut).Dengan persatuan kedua ajaran ini maka muncullah beberapa variasi filsafat Shaiwa Siddanta ,antara lain dariTamil,Deccan dan maysor,Khasmir, demikian pula Shaiwa siddanta dari Indonesia ( Bali) yang semua varian dari perkembangan filsafat ini meyakini Kitab Suci Weda lebih tinggi dari filsafat ini muncullah ajaran Shaiwa bhairawa.


 BAB. VI
ZAMAN GERAKAN BHAKTI ( BHAKTI MOVEMENT)
(1.200 M – 1.800 M )
Sejak tarikh awal masehi,India sudah dikunjungi oleh orang-orang asing yang beragama non-Hindu, seperti orang-orang Kristen,Islam yang pada awalnya berdagang dan ada juga menyebarkan agamanya.Dalam bidang keagamaan ,prinsip-prinsip dan ide-ide dari ajaran Islam begitu kuat mempengaruhi pemimpin-pemimpin Hindu baik secara langsung maupun tidak,seperti gerakan keagamaan Hindu terutama adalah munculnya ajaran-ajaran yang sederhana seperti ajaran tentang monoteisme (percaya kepada satu Tuhan),anti terhadap penyembahan patung,dan semua orang adalah saudara dengan hak-hak yang sama.(Manusa Pada),disamping itu juga ajaran golongan Sufi mempengaruhi agama indu yaitu hidup dengan jalan mengasingkan diri ,mengabdikan diri dan mempersiapkan diri mereka untuk merealisasikan Tuhan dengan jalan Samadhi ( Kundra,1968;391;Mahajan,2001;388;Luniya,2002:328). Ajaran Sufi begitu kuat pengaruhnya terhadap ajaran Bhakti(Bhakti cult) yang muncul pada zaman ini umumnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pertama,gerakan yang semata-mata hanya berdasarkan pada ajaran agama Hindu dan Sosial seperti yang dipimpin oleh ramanuja,Ramananda,Basawa,Nimbarka,wallabha,Chaitanya,Tulsidas dan lain-lain, dan kedua adalah gerakan yang mendasarkan pada ajaran agama yang terkena pengaruh Islam misalnya gerakan yang dipimpin oleh Nam Dev,Guru nanak,Kabir,dan lain-lain. Gerakan bhakti yang muncul pada zaman ini menekankan pada ajaran kesamaan hak dan kedudukan dalam masyarakat (Manusa Pada) dan memegang teguh keyakinan bahwa martabat manusia tergantung pada tindakan mereka, bukan karena kelahirannya.
Pada kelompok Waishnawa golongan pertamaprinsip utamanya adalah percaya Tuhan Monoteis yang diterima sebagai Tuhan yang Berpribadi yaitu Wishnu,Hari, Rama atau Krishna diwujudkan dengan menyebut namanya berulang-ulang (kirtanam),demikian juga dengan mempersembahkan pikiran,perbuatan,dan kekayaan hanya kepada Tuhan tersebut dan kedudukan seorang guru,Swami atau Baba juga sangat penting memnggantikan pendeta. Gerakan Bhakti juga dilakukan oleh golongan Waishnawa-wedanta lainnya yang dipelopori oleh Tulsi Das yang juga sebagai pendiri dari mazhab penyembah Rama (Religion of the Charit Manas),disamping itu juga muncul mazhab Gauddiya waishnawa-wedanta yang menurutnya Krishna berwujud brahma untuk menciptakan alam semesta.Kemudian Krishna mengajarkan ajarannya kepada Narada dan Narada mengajarkan kepada Wyasa mengenai Kitab Suci Catur Weda kemudian kitab Suci ini diajarkan kepada Rsi Madhwa.Gerakan Bhakti yang bergerak dalam bidang agama dan social yang terkena pengaruh Islam dipelopoi oleh Guru nanak dan Kabir. Guru nanak(1.469 M) adalah seorang reformis dan pendiri agama Sikh dari mazhab Waisnawa, yang mengajarkan ajaran waishnawa bebas dari praktek penyembahan patung,bebas dari kasta(caste system), dan bebas dari takhayul. Guru nanak mendirikan agama Sikh yang bertujuan untuk mempersatukan ajaran agama Islam dengan ajaran Hindu sekaligus mempersatukan kedua umat beragama tersebut.Kabir mengajarkan ajaran agama berdasarkan cinta kasih dengan tujuan untuk mengembangkan persatuan antara semua kasta dan agama, Ia menentang praktik penyembahan patung,upacara agama dan yajna (kurban suci) dan menekankan kesamaan hak di antara manusia.


 BAB. VII.
GERAKAN HINDU MODERN ( MODERN HINDU MOVEMENT)                          
    ( 1. 800 M – 1.947 M)
Kedatangan orang-orang Inggris yang menaklukkan India dan mereka juga menyebarkan agama Kriten dan kebudayaan barat dengan misionaris-misionaris dalam jumlah besar terjadi pada tahun 1813 masehi.Para misionaris berusaha mendiskreditkan agama Hindu dan berusaha mengkonversikan orang-orang Hindu untuk masuk Kristen.Upaya ini berhasil menarik simpati orang Hindu terutama dari kasta Pariah (lower caste) untuk berpindah agama. Untuk melawan propaganda Kristen maka para cendikiawan Hindu yang telah menyelesaikan studinya di luar negeri mulai melakukan reformasi ajaran agama Hindu yang terjadi tahun 150 M hingga 1950 M dengan jalan menafsirkan agama Hindu secara modern. Gerakan golongan rasionalis ini muncul secara serentak,terutama di India Timur yang berpusat di Kalkuta, yang merupakan gerakan radikal dengan merombak agama Hindu sedemikian rupa dan juga memasukkan ajaran yang bak dalam agama Kristen,Islam,Buddh dan Zoroaster menjadi ajaran Hindu (Upanisadic thought) sehingga agama Hindu menjadi lebih modern dan maju.Periodisasi zaman Gerakan Hindu Modern (Neo Hinduism) ( Narang,1969;87) di India pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gerakan yang muncul sebelum India merdeka(Pre Indian Independence) dan gerakan yang muncul setelah india merdeka(Post Indian Independence). Namun demikian , berdasarkan pokok-pokok ajarannya gerakan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu golongan reformis(pembaharuan Hindu) dan golongan revivalis (kebangkitan kembali Hindu). Pemimpin Gerakan reformasi yang terkenal adala Raja Ram Mohan Roy,Mahatma Gandhi,Dewendranath Tagore, dan lain-lain.Pemimpin-pemimpin gerakan revivalis adalah Swami Dayananda saraswati,Ramakrishna Paramahamsa,Swami Wiwekananda, dan lain-lain. Gerakan Hindu modern di India dipelopori untuk pertama kali oleh Raja ram Mohan Roy(1.772 M – 1.833 M ) dengan mendirikan gerakan bernama Brahma samaj ( 1.828 M ) yang bermaksud mereformasi agama hindu untuk menghadapi penyerangan agresif dari agama –agama lain dan juga mengajarkan bahwa Hinduisme adalah “A Way Of Life” ( jalan hidup 0 dan bukanlah agama yang semata-mata dogmatis.Brahmo Samaj berpendapat bahwa” menerima dan menjalankan begitu saja adat dan tradisi kuno merupakan suatu kesalahan besar “. Tradisi itu harus diterima dan dijalankan hanya berdasarkan nilai-nilai social dan spiritual.Gerakan Brahmo samaj diikuti oleh Dewendranath Tagore ( 1.817 M – 1.905 m )dengan mendirikan aliran ( sect) Bharatiya Brahmo Samaj yang ajarannya bersumber dari Wedanta yang bebas dari pemujaan patung, dan juga tidak percaya dengan kemanjuran atau mukjizat dari upacara dan upakara yajna.Pemimpin gerakan Hindu modern yang sangat terkenal adalah Mahatma Gandhi ( 1.869 – 1948 M). Ajaran umumnya disebut Gandhian ( Grover, 1998;462). Mahatma Gandhi mendirikan gerakan Sarwodaya(1904 M ) dengan mengatakan “ What we see today is not pure Hinduism “ ( Apa yang kita lihat sekarang bukanlah Hindu yang murni ). Mahatma Gandhi menginginkan pemurnian Hindu”purified Hinduism” dimana Weda, Upanishad, Itihasa, dan Purana-purana adalah kitab suci, tetapi kebenarannya harus diinterpretasikan secara rasional, seperti misalnya perang mahabaratha sejalan dengan ajaran Ahimsa karena perang itu adalah perang spiritual atau perang suci dalam diri manusia . Ajaran Gandhi tentang social –politik yang ternama adalah ahimsa ( poitik tanpa kekerasan ) dan swadeshi (kemandirian)(Narang,1969;101-103;Grover,1998;463). Golongan reformis ingin mereformasi ajaran agama Hindu dengan ajaran – ajaran yang lebih rasional . Ajaran ini bersifat toleran ,a-literer(tidak fanatik pada satu kitab suci), dan universal artinya dari manapun sumber ajarannya, asalkan dipandang baik dan rasional maka akan diterima menjadi ajaran Hindu. Sebaliknya gerakan revivalis justru ingin mengembalikan pelaksanaan agama Hindu semurni-murninya. Pemimpin gerakan revivalis yang terkenal adalah Swami Dayanand Saraswati dengan mendirikan gerakan yang disebut Arya Samaj (1.875 M ) dengan keyakinan Weda sebagai satu-satunya sumber kebenaran ( Grover, 1998:386;Sharma,2002;280).Swami dayanand saraswati mengatakan bahwa Weda bebas dibaca setiap orang, Ia menekankan ajarannya pada hal-hal berikut .
1.      Menentang penyembahan patung.
2.      Menolak adanya Awatara
3.      Menolak kepercayaan kepada takhayul dan kekuatan gaib.
4.      Menentang kebohongan  dari kitab Smrti,termasuk kitab Itihasa dan Purana.
5.      Menentang adanya system kasta.
6.      Menentang pelaksanaan yajna(kurban binatang).
7.      Menentang pemujaan dan upacara untuk leluhur.
8.      Menetang ajaran Tirthayatra.
9.      Mengakui bahwa setiap orang dari kasta apapun bisa menjadi pendeta.
10.  Menentang membuat dan mempersembahkan sesajen.
11.  Menentang pembuatan kuil –kuil pemujaan dan menggantinya dengan Havan(istilah lain untuk Homa atau Agnihotra)(Narang,1969;94;Rajeev,1990;37)
Pemimpin lain dari golongan revivalis adalah Ramakrishna Paramahamsha (1.836- 1.866 M) yang lahir dalam kalangan tradisi, bukan dari pendidikan modern.Namun, dia mengakui bahwa dalam meditasinya telah berhasil merealisasikan berbagai wujud Tuhan seperti, Krisna,Rama,Yesus dan lain-lain.Ajarannya merupakan campuran dari ajaran Tantrayana ,Waishnawa,dan mencampur ajarannya dengan ajaran Budda,Islam ,Kristen dan agama lainnya dari sinilah muncul ajaran Sarwa Dharma yang artinya smua agama sama hanya jalannya yang berbeda-beda ,dengan nama apapun Tuhan dipanggil maka Ia akan datang. Dia juga mengajarkan pelayanan kemanusiaan bahwa melayani sesama manusia sama dengan melayani Tuhan ( Manawa sewa madhawa sewa )( Rajeev,1990;28-29;macmillan (ed),2001;874-875,Sharma, 2002;284). Penerus dari Ramakrishna Paramahamsa adalah Swami Vivekananda,lahir dari keluarga Ksatrya dengan nama kecil Narendra yang mengajarkan ajaran Neo Hinduisme untuk meninggalkan semua takhayul dan mengikuti ajaran yang rasional, karena kecerdasan dan keberaniannya telah mengantarkan ke konferensi agama-agama di Chicago dan berpidato disana pada tahun 1.893 M.Bersamaan dengan berlangsungnya gerakan Hindu Modern di India,rupanya juga terjadinya kebangkitan agama Budda sebagai pelopor seorang sarjana hukum dari kastaPariah ( di luar catur warna)dengan gerakan Neo-Buddisme yaitu Dr.B.R.Ambedkar dengan mengambil ajaran dari agama Buddha Hinayana.Adapun cirri-ciri penting dari kedua gerakan Hindu Modern adalah sebagai berikut :
1.      Ciri penting ajaran golongan reformis : 
b.      Penafsiran terhadap kitab suci Weda secara rasional.
c.       Hindu sebagi Way of Life.
d.      Menolak adat istiadat,dogma,dan takhayul.
e.       Hindu bersifat toleran dan bebas diinterpretasi.
f.       Penafsiran berdasarkan atas logika atau rasio.
g.      Menolak upacara dan upakara.
h.      Menolak ajaran thirta yatra.
i.        Menolak ajaran agama yang tidak logis.
j.        Menolak ajaran pendeta yang tidak logis.
k.      Mencampurkanadukkan ajaran agama-agama.
l.        Mengajarkan prisip-prinsip agama universal.
2.      Ciri penting ajaran golongan revivalis :
a.       Hanya Catur Weda yang benar, (smrti,itihasa,purana tidak benar )
b.      Populernya gerakan back to Veda.
c.       Weda boleh dibaca siapapun, tanpa memandang kasta.
d.      Semua orang dari kasta apapun boleh menjadi pendeta.
e.       Menolak seluruh upacara dan upakara yang tidak logis.
f.       Munculnya ajaran sarwa dharma, semua agama sama saja.
g.      Ajaran kemanusiaan universal “melayani sesama manusia sama dengan melayani Tuhan”
h.      Pemurnian ajaran Hindu melalui rasionalitas.
Setelah India merdeka pada 15 Agustus 1947,gerakan kebangkitan kembali agama Hindu mendapat spirit baru dengan munculnya gerakan teosofis(Pemahaman Ketuhanan melalui pemikiran rasional) yang luar biasa dan orang-orang suci seperti Swami,Baba dan lain-lain dengan ajaran –ajaran hanya memakai satu atau beberapa kitab suci,ada yang menggunakan Catur Weda, Kitab Upanisad dan Wedanta,Itihasa dan Purana. Organisasi keagamaan Hindu yang muncul pada zaman ini antara lain : Sai Baba,Ananda Marga, Brahma Kumari, Babaji, Radhaswami Satsang, Mataji Shri Nirmala Dewi,Shri Shri Ravi Shankar,Swami Dhananjoy das Kathia Babaji,Mata Amritanandamayi Devi,Sadguru Jaggi Vasudev, Bhagawan Rajneesh, Swami Chimananda,dengan Chinmayananda mission, Babaji Haidakhana, dan lain-lain.Demikian juga dengan masyarakat kesdaran Krishna didirikan oleh A.C. Bhaktiwedanta di new York,Amerika Serikat, dan organisasi ini menyebar keseluruh dunia (Klostermaier,1998;156).
Kebhinekaan adalah sebuah keniscayaan,dalam kebhinekaan terdapat keesaan nilai yang ajeg sepanjang masa, betapapun evolusi sejarah perkembangan agama itu berjalan .Munculnya sekte-sekte dalam agama Hindu di India menjadi bukti bahwa agama Hindu terbuka dengan masuknya nilai-nilai baru yang menjadi spirit zaman. Semuanya memiliki kebenarannya sendiri-sendiri, sehingga diperlukan sikap saling menghargai,menghormati, dan tidak saling menjelekkan antar penganut sekte.
           

1 komentar:

  1. SUKSEMA ATAS TULISANNNYA ! PENAMBAH PENGETAHUAN TENTANG PERKEMBANGAN HINDU DARI JAMAN KE JAMAN !! IJIN UNTUK COPY TULISAN INI.

    BalasHapus