Jumat, 07 September 2012





UPACARA RARE EMBAS

I. PENDAHULUAN.
Dalam kehidupan beragama, umat Hindu khususnya yang ada di Bali tidak bisa lepas dari rangkaian upacara dalam mengiringi pelaksanaan kegiatan keagamaan sebagai muara konsekwensi bhakti umat kehadapan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Pelaksanaan upacara ini merupakan ciri dari pada ajaran Siwa Sidhanta yang berkembang di Bali, yang salah satu pelaksanaan upacara yang ada di Bali adalah upacara Manusia Yajna.

Upacara Manusia Yajna adalah merupakan suatu korban suci yang bertujuan untuk membersihkan lahir bathin serta memelihara secara rohaniah hidup manusia. Mulai dari wujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir hidup manusia itu. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya pembersihan itu dapat di lakukan sendiri tanpa bantuan yang lain misalnya dengan melakukan Yoga Smadhi dengan tekun dan disiplin, tetapi sebaiknya bagi mereka yang belum kuatbatinnya akan memerlukan alat atau bantuan orang lain, misalnya dengan mengadakan upacara-upacara, dimana pada dasarnya upacara itu tidak dapat di pisahkan dengan upakara (bebanten) besar atau kecil sesuai dengan kaadan. Pembersihan lahir bathin manusia selama hidupnya dianggap perlu agar seseorang dapat menerima ilham (petunjuk-petunjuk yang baik dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sehingga selama hidupnya tidak menempuh jalan sesat, melainkan dapat berfikir, berkata, dan berbuat yang baik dan benar. Sehingga dapat memperbaiki karmanya sehingga bisa bersatu atau menyatu dengan sumbernya yaitu Brahman.
Seperti telah di ketahui bahwa salah satu kepercayaan agama Hindu adalah menjelma kembali Rainkarnasi (Numitis) sehingga konsekwensi Karma Wasana tergantung baik buruk dari perbuatannya, dan upacara ini juga merupakan Pamarisudha (pembersihan) dari semua perbuatan baik dan buruk (Subha-Asubha karma ) seperti halnya upacara Rare embas. Apabila si bayi lahir akan di buatkan upacara walaupun upacara ini tidak begitu memiliki arti yang istimewa kecuali sebagai tanda gembira dan angayu bagia atas kehadiran si cabang bayi di dunia ini. Tetapi inti dari upacara ini adalah perawatan terhadap “ari-ari” (Sang satur Sanak). Seperti dalam upacara bayi dalam kandungan (upacara megedong-gedongan) bahwa menurut keyakinan umat Hindu di Bali semasih dalam kandungan si bayi mendapat perawatan atau pemeliharaan terutama oleh empat kekuatan yang di sebut Babu Sugian. Babu Lembana, Babu Abra dan Babu Karare. Dan kenyataannya si bayi mendapat pemeliharaan dari empat unsur atau jasad yaitu Yeh nyom, Lamad, Ari-ari dan Darah yang di sebut juga Nyama Catur atau Catur Sanak. Kiranya Nyama Catur (saudara empat) itu di beri kiranya merekalah yang selelu menemeni dan memelihara si bayi selema semasih dalam kandungan smpai lahir, bahkan menurut suatu mitologi si bayi telah berjanji tidak akan melupakan keempat saudaranya itu. Dan agar di tolong pula si bayi mencari jalan keluar (lahir) ada yang membukakan pintu (Yeh nyom) ada yang ngabih (menjaga) dari kiri dan kanan (darah dan lamad) dan ada pula yang mendorong atau mengatur dari belakang (ari-ari). Kemudian keempat catur sanak itu akan berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan si bayi atau seseorang. Misalnya semasih di dalam kandungan disebut Babu sugian, Babu lembana, Babu abra, dan Babu karare. Sedangkan setelah lahir disebut Sang Anggapati, Sang Mrajapati, Sang Banaspati dan Sang Banaspati-Raja. Lebih lanjut mereka juga di sebut : Dengen (Yeh Nyom), Kala  (Darah), Bhuta (Lamad) dan Antapreta (Ari-ari). Serta masih banyak lagi nama yang di berikan kepada mereka sampai pada seseorang meninggal.
Dengan adanya keyakinan bahwa keempat keyakinan dari unsur atau jasad akan tetap memelihara dan melindungi si bayi atau seseorang sampai akhir hidupnya bahkan setelah meninggalpun mereka yang akan menjemput Sang Atma dan mengantarnya ke dunia akhirat atau sebaliknya mungkin juga akan merintangi dan mengganggu jalannya Sang Atma. Oleh karena itu sesuai janji si bayi semasih berada dalam kandungan maka keempat kekuatan (Sang Catur Sanak) mendapat pemeliharaan (di-aci) sebagai mana mestinya. Melalui suatuupacara dengan pengharapan mereka tetap melindungi si bayi atau seseorang dari mala petaka, kesukaran-kesukaran dan lain sebagainya. Setiap ada upacara terhadap si bayi maka Sang Catur Sanak akan di buatkan pula upakara-upakara dan bagi orang yang teliti sebelum menyusui anaknya terlebih dahulu ia akan meneteskan beberapa tetes air susunya yang di tujukkan kepada Sang Catur Sanak (diteteskan di tempat menanam ari-ari). Demikian pula saat memandikan si bayi tempat tersebut akan di sirami pula dengan air.
Di dalam pemeliharaan terhadap Sang Catur Sanak maka yang nyata mendapat pemeliharaan (perawatan adalah ari-arinya sedangkan yang lain seperti Yeh Nyom, Lamad, dan Darah akan di buang di tempat melahirkan. Tapi kalo ari-arinya di bawa pulang setelah sampai di rumah ari-ari tersebut akan di cuci kembali dengan air bersih atau air kum-kuman. Lalu di masukkan ke dalam se butir kelapa yang diisi tulisan ONG-Kara sedangkan bagian bawahnya di isi tulisan AH-Kara. Kemudian kedua belah kelapa itu di cakupkan kembali di bungkus dengan ijuk dan kain putih, lalu di pendam sebagai berikut :
Apabila si bayi perempuan maka yang memendam ari-arinya adalah salah satu keluarganya perempuan serta di pendam di sebelah kiri pintu bale. Dan apabila si bayi laki-laki maka memendam ari-ari adalah salah satu keluarga laki-laki serta di pendam di sebelah kanan pintu bale.

II SUSUNAN UPACARA
2.1.   Upakara yang kecil (nista).
-     Untuk si bayi : Dapetan dengan “jit kuskusan” (nasi yang di ambil dari ujung kuskusan atau bentuk runcing) di lengkapi dengan raka-raka, lauk-pauk, sampian jaet, canang sari atau yang lain, penyeneng, dan ajuman putih kuning.
-     Untuk Catur Sanak : Banten ini di taruh di tempat menanam ari-ari. Segehan kepel 4 kepel dengan ikannya bawang, jahe, dan garam. Ada kalanya nasi berwarna empt (putih, merah, kuning, dan hitam) serta di tambah dengan satu kepel nasi berumbun. Banten ini di haturkan kehadapan Sang Antara Preta beserta saudara-saudaranya.
2.2. Upakara Biasa (madya)
-     Untuk si bayi : sama seperti di atas di tambah dengan jerimpen di wakul dan pemagpag dengan guling itik beserta perlengkapannya.
-     Untuk Sang Catur Sanak. Sama seperti di atas.



2.3. Upakara yang besar (utama)
-     Untuk si bayi seperti upakara biasa yang di lengkapi dengan jerimpen tegeh serta magpagnya dengan guling babi serta perlengkapannya di sertai dengan bunyi-bunyian seperti kul-kul, bedil, gong, dan lain sebagainya.
-     Untuk Catur Sanak sama seperti di atas di tambahkan dengan sesajen yang lain sesuai dengan keadaan.



DAFTAR PUSTAKA

Putra, I. G. A. Mas, Upacara Manusia yadnya, IHD Denpasar.
_______________, dan Oka Ida Bagus, Catur yadnya.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar