Jumat, 07 September 2012




KETUHANAN DALAM WEDA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Bila orang mempelajari agama Hindu biasanya mulai dengan mengenal kitab-kitab Weda sebab ajaran agama Hindu mengalir melalui ajaran weda. Weda adalah kitab suci agama Hindu yang tertua bahkan kitab tertua orang-orang arya. Dalam menghadapi perkembangan jaman saat ini yang sudah tentu akan berpengaruh pada perkembangan agama Hindu  yang mungkin penganutnya tersebar di seluruh pelosok dunia. Melihat tantangan yang mengarah pada penipisan pemeluk agama Hindu khususnya yang berada di Indonesia, yang salah satu penyebabnya adalah kurangnya penyuluhan agama dikalangan umat kita dan penjelasan agama kita yang selalu berpaham pada ritual semata, oleh karena itu penjelasan-penjelasan agama dengan pengetahuan yang logis dalam konteks makna dan simbolisnya, seperti dalam Tri Kerangka Agama Hindu. Semua ajaran agama Hindu selalu berpegang teguh pada tri kerangka ini yang merupakan dasar acuan pelaksanaan ajaran agama Hindu walaupun beda pelaksanaannya tetapi tidak mengurangi intisari yang ada pada Kitab Suci Weda.
Bila ingin memahami ajaran agama Hindu kita dapat mempelajari berbagai sumber seperti membaca kitab Weda, Sruti-smreti, Epos Ramayana, Mahabrata, Bhagawdgita atau kitab-kitab yang lainnya. Kita mengetahui agama Hindu sebagi salah satu agama besar yang kehadirannya diakui dunia ajarannya telah banyak menyumbangkan pemikiran dan peradaban yang bernilai luhur baik berupa kebudayaan, tatanan kehidupan dan kemasyarakatan maupun nilai-nilai sepritual yang tinggi dan universal.
Ajaran-ajaran agama Hindu yang bersumber dari kitab suci weda merupakan ajaran yang sangat universal dan mendalam yang mencakup dimensi waktu masa lampau, masa kini maupun masa yang akan datang (attita, nagata dan wrtamana). Untuk menambah keyakinan umat Hindu terhadap ajaran agama yang dianutnya pemahaman terhadap kitab suci weda perlu ditingkatkan dan dimantapkan.
Ilmu dan pengetahuan adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan pengetahuan weda adalah pengetahuan spiritual yang mengandung daya keillahian yang mempunyai tujuan untuk memperlihatkan keillahian yang ada dalam batin kita dengan jalan mengontrol sifat-sifat  jasmani dan rokhani kita. Pengetahuan weda adalah pengetahuan yang memberikan kemampuan untuk menggunakan wiweka yaitu untuk memilah-milah dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah. Peraktekkanlah pengetahuan ini melalui kerja atau bhakti atau latihan-latihan batin. Dimana tujuan terakhir dari segenap umat manusia dan tujuan dari semua agama hanya satu yaitu bersatunya kembali kedalam Tuhan atau dalam istilah yang sama yaitu bersatu kembali dengan keillahian yang merupakan sifat sejati dari manusia itu sendiri tetapi walau tujuannya satu maka jalan yang dapat ditempuh dengan berbagai cara kalau tiap-tiap ilmu pengetahuan mempunyai cara tersendiri maka demikian pula halnya dengan setiap agama yang mempunyai cara untuk mencapai tujuan dalam agama Hindu disebut yoga.
Mengenai tentang keberadaan weda atau usia weda belum ada sumber yang jelas tentang kapan dan dimana weda itu ditemukan, dalam usia weda manusia ditetapka seratus tahun, kehidupan seratus tahun bukan hanya sebatas hidup melinkan hidup sehat dengan melihat, mendengar dan tanpa penyakit. Usia seratus tahun diberikan untuk memahami diri sendiri, baik secara internal maupun eksternal. Pandangan bahwa ada seorang yogi atau manusia yang dapat hidup ribuan tahun adalah tidak benar, karena siapan manusia tidak akan mampu melawan hukum alam (Rta). Setiap makhluk hidup atau benda mati akan mengalami proses kelahiran dan kematian atau kehancuran meskipun ia adalah seorang raja, yogi dan sebagainya. Akan tetapi kebenaran weda adalah kebenaran yang bersifat kekal abadi yang merupakan wahyu langsung bersumber dari Tuhan.
Umat Hindu sesuai dengan perkembangan jaman tidak, cukup hanya memahami ajaran agama dan konsep ketuhanan secara tradisional, tetapi mendalami lebih jauh dengan jalan mendapatkan penjelasan dan keterangan yang lebih akurat dan logis tentunya berdasarkan sumber sastra agama dalam menghilangkan keragu-raguan yang menutupi pengatahuannya, sehingga nantinya didapat pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.





1.2.      Rumusan Masalah
Seperti kita ketahui bahwa dalam kitab suci weda banyak disebutkan nama dewa-dewa sebagai penjaga keseimbangan dunia ini yang masing-masing mempunyai tugas sesuai dengan fungsinya.
Dari paparan ringkas di atas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yang menyangkut tentang ketuhanan dalam weda adalah sebagi berikut :
a.       Apa pengertian Weda, Tuhan, Dewa dan Bhatara dalam Weda?
b.      Seperti apa ketuhanan yang ada dalam weda?
c.       Bagaimanakah Mitologi ketuhan dalam weda?

1.3.      Manfaat dan Tujuan Penulisan
Penulisan ini pada dasarnya bermaksud untuk mendeskripsikan dan mengetahui konsep ketuhanan dan mitologi dewa-dewa yang terdapat dalam kitab suci weda, utamanya dapat mengungkap tentang sumber ajaran tentang dewa-dewa dalam weda. Serta diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komfrehensif kepada masyarakat umum atau generasi muda yang mempunyai kepedulian terhadap agama Hindu khususnya yang ingin mengetahui tentang konsep ketunan yang terdapat dalam kitab suci weda.

1.4.      Ruang Lingkup Penulisan
Mengingat berbagai keterbatasan yang dimiliki penulis maka pengkajian terhadap ketuhanan dalam weda berdasarkan sumber yang didapat oleh penulis, karena luas dan banyaknya dewa-dewa yang ada dalam weda maka penulis hanya mengungkap dewa-dewa yang terdapat dalam kitab Rg. weda itu pun hanya dewa-dewa yang umum diketahui dan yang lebih dikenal oleh masyarakat.








BAB II
PEMBAHASAN
2.1.      Pengertian Weda
Sebelum lanjut membahas mengenai ketuhanan dalam weda terlebih dahulu kita ketahui apa itu weda? Dan yang mana dikatakan weda? Karena di kalangan masyarakat umum masih banyak masyarakat yang bingung tentang pengertian weda, dan pengetahuan weda ini hanya diketahui oleh orang-orang berpendidikan saja atau kalangan intelektual saja. Dimana banyak interpretasi masyarakat mengenai weda itu sendiri yaitu pengetahuan sebagian masyarakat tentang weda hanyalah sebuah mantra atau doa pemujaan yang dikaitkan dengan sulinggih yang sedang “mepuja” atau “meweda”. Dan lebih hironisnya masih banyak umat kita yang belum pernah mengambil kitab suci weda bahkan melihat saja belum pernah.
Sesungguhnya kitab suci weda bukanlah hasil susastra saja seperti Bhagawadgita atau bukan pula kuimpulan dari beberapa buku dalam suatu masa tertentu seperti tri pitaka agama budha dan injil agama kristen tetapi suatu susastra yang menyeluruh dari abad keabad, dan disampikan dari mulut kemulut, dari generasi kegenerasi. Weda sebagaimana kita kenal sekarang merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa yang memuat berbagai pandangan dan pengetahuan penting yang diperlukan umat Hindu.
Kata weda berasal dari kata sanskerta yaitu dari urat kata “Wid” yang berarti pengetahuan dan dari kata “wid” menjadi widya atau widdhi yang berarti Maha Tahu yaitu pengetahuan, akan tetapi tidak semua pengetahuan dapat dikatakan weda. Pengetahuan weda adalah pengetahuan suci yang bersifat hakiki yang memiliki kebenaran mutlak dan bersumber langsung dari Tuhan (Brahman) yang memberi tuntunan kepada umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian baik di dunia maupun diakhirat.
Weda merupakan mantra-samhita yaitu himpunan dari mantra-mantra. mantra adalah nynyian pujaan yang ditujukan kepada para Dewa oleh yang menyanyikan, para dewa dimohonkan agar sudi mendengarkan nyanyian yang umumnya berisi permohonan yang bersifat untuk keselamatan hidup di dunia.

Contoh nyanyia-nyanyian tersebut :
Agni naya supartha raye asman
Visvani deva vayunani vidvan
Yuyodhya smajuhuranameno
Bhusistham te name uktim vidhema

Artinya :
Agni, tuntulah kami pada jalan
Yang benar menuju kepada kebahagiaan
Agni, engkau mengetahui semua usah yang baik
Hapuslah dosa-dosa yang menyesatkan
Hamba akan memuji-Mu sebanyak-banyaknya.

 Secara tradisional weda terderi dari empat macam yang disebut dengan catur weda yaitu Reg Weda yang sebagian besar terdiri dari nyanyian pemujaan, yayur weda yaitu yang berhubungan dengan mantra yadnya, sama weda yang berisi melodi dan atharwa weda yang sebagian besar berisi mantra gaib.

2.2.      Pengertian Tuhan
Berdasarkan kitab suci weda Tuhan merupakan “Acintya” yaitu tak terpikirkan. Dan Tuha itu hanya dapat diwujudkan melalui simbul atau nyasa, wujud beliau dapat dihafalkan menurut fantasi manusia. Rahasia keilahiannya terembunyi dalam kabut rahasia pengetahuan manusia, sifat-sifat kerahasiaan itu dipikirkan kedalam bentuk nyasa dengan cara-cara simbolik yang disebut maya sakti. Nyasa yang banyak dipakai dalam ajaran agama Hindu adalah simbul dengan garis-garis tertentu yang disebut yantra (cakra) perpaduan warna, kembang dan warna-warna tertentu secara arca yang wujud bentuknya kadang-kadang fantasi seperti yang kita lihat.
Dengan semakin berkembangnya peradaban dan kemampuan berpikir manusia, ajaran agama Hindu mengalami pula perkembangan dalam penghayatan dan pelaksanaannya. Dari politeisme dan henoteisme, ajaran agama Hindu berkembang menuju monotesme dan monisme, pandangan yang mengakui dengan tegas hanya ada satu Tuhan yaitu Brahman sebagai yang mutlak “Ekam Eva Adwityam Brahman  yang artinya hanya satu Tuhan tiada yang kedua demikian ucapan weda. Pandangan monisme seperti ini tidaklah dipertentangkan dengan pandangan sebelumnya karena dalam weda sudah disebutkan Tuhan Yang Maha Esa itu disebut pula dengan berbagai nama, Dia-lah pencipta (Brahma), Dia pula penopang dan pemelihara alam semesta beserta isinya (wisnu), dan pada saatnya melebur segala ciptaannya menuju asalnya (siwa).
Dalam Rg. Veda, kitab weda tertua disebutkan Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya dan Ia pula yang menciptakan dewa-dewa untuk mengendalikannya. Sebagai ajaran yang terbuka, weda bagaikan tanah sebur bagi persemian berbagai aliran dan pandangan filsafat. Lambang-lambang dan gagasan dalam weda diberi pengertian dan makna baru tanpa menggoncangkan kepercayaan lama.

2.3.      Pengertia Dewa
Dewa berasal dari bahasa sanskerta yaitu dari urat kata “Div” yang berarti “sinar” atau cahaya (nur). Sampai sekarang masih banyak yang salah mengartikannya dan beranggapan bahwa Dewa adalah Tuhan. Ajaran filsafat ketuhanan dalam agama Hindu telah menjelaskan dengan seksama bahwa segala yang ada di muka bumi ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Dewa-dewa diciptakan sebagaimana alam semesta ini, yaitu untuk mengendalikan alam semesta ini, tiap aspek dikuasai oleh satu Dewa dengan ciri-ciri dan lambang-lambang yang khusus pula.
Dengan kata lain Dewa-dewa adalah personifikasi dari kekuatan-kekuatan yang berada dibalik kekuatan-kekuatan alam yang karib dengan manusia, yang murah hati dengan pemuja-pemujanya namun menakutkan bagi mereka yang amat membencinya. Para Dewa itu amat kuat, arif, penyayang, maha tahu, menyusupi segala, adil, benar, dan murah hati. Mereka menganugrahi kemakmuran yang bersifat duniawi, kebijaksanaan yang bersifat moral, kejayaan yang bersifat peperangan, kekayaan, umur panjang, anak cucu dan sebagainya.
Dalam Weda disebut Agni (dewa api), Sutya (dewa Matahari), Usa (dewa fajar), Prthivi (dewa bumi), Dyaus (dewa langit), Mitra (dewa siang), Parjanya ( dewa awan dan hujan), Maruts (dewa angina ribut), Vayu (dewa angin), Savitr (dewa matahari pagi) dan sebagainya. Kadang-kadang mereka dipuja satu-satu sehingga menunjukkan sifat-sifat politeisme yang Anthropomorphic dan kadang-kadang juga dipuja bersamaan dalam kelompok serta kadang-kadang semua Dewa dipuja bersama-sama yang diyakini sebagai sebagian aspek dari Tuhan Yang Tertinggi Yang Esa.
Setiap Dewa mempunyai satu sakti yang tidak terpisah dari padanya sebagi halnya suami-istri. Sakti inilah yang diwujudkan dalam bentuk Dewi yang dianggap sebagai istri Dewa. Hubungan antara Dewa dengan saktinya banyak merupakan dasar dalam agama Hindu, karena itu janganlah cepat menyimpulkan bahwa kepercayaan tentang ketuhanan dalam agama Hindu adalah berkisar pada kepercayaan pada Dewa-dewa saja.

2.4.      Pengertian Bhatara
Kata Bhatara berarti “Raja” ataupun yang dipertuakan dan kadang-kadang diartikan pula sebagai “pelindung” yaitu dari kata “Bhatr”. Didalam agama Hindu yang umum dikenal Bhatara adalah Krsna. Bhatara harus memenuhi syarat, sifat dan tujuan tertentu seperti menegakkan dharma, melindungi yang lemah dan hukum-hukum agama Hindu yang benar serta menyampaikan ajaran-ajaran agama yang diterima langsung dari Tuhan (Sruti) kepada umat manusia.
Dari penjelasan pengertian singkat tantang Tuhan, Dewa dan Bhatara di atas kita dapat mengetahui gambaran secara umum mengenai konsep ketuhanan dalam ajaran agama Hindu dimana agama Hindu mengenal banyak personifikasi Tuhan sesuai dengan swabawanya atau manifestasi yang dipuja namun pada haketnya konsep ketuhanan dalam Hindu adalah monoteisme yaitu mengenal satu Tuhan sebagai hakekat tertinggi.

2.5.      Dewa-Dewa dalam Weda
Dalam pembahasan ini penulis akan menjelaskan masing-masing Dewa beserta motologinya yang terkenal dalam Kitab Rg. Weda dan disertai kutipan langsung dari Rg. Weda dangan terjemahannya. Dengan uraian-uraian ini akan memperjelas pengetahuan kita tentang ajaran Ketuhanan dalam agama Hindu. khususnya pengetahuan tentang dewa-dewa dalam weda.


1.      Agni
Agni adalah Dewa penting sesudah Indra, awal penampilannya adalah penampilan dengan personifikasi dan hampir selalu dihubungkan dengan upacara api, Ia digambarkan dengan berambut nyala api, berjanggut panjang, berdagu panjang dan bergigi emas. Sering digambarkan dengan lidahnya, yang dengan lidahnya itu Dewa-dewa menyantap persembahan yang berupa makanan. dengan kepalanya yang menyala Ia memandang kesegala penjuru. Ia sering mempunyai tanduk yang tajam, Ia adalah burung Dewa, Ia adalah burung elang di langit, bila berada di air Ia seperti angsa. Kayu dan mentega adalah santapannya, dan mentega cair adalah minumannya.
Ia adalah putra Dyanus, Dewa langit, dan sering pula disebut-sebut putra langit dan bumi. Ia juga keturunan air, Agni lebih sering dihubungkan dengan Indra ketimang Dewa lain. Lepas dari aktivitas Agni dalam upacara maka mitologi Agni lebih banyak dihubungkan dengan bermacam-macam cerita tentang kelahirannya, wajahnya dan tempat tinggalnya. setiap hari dia lahir dari dua batang kayu gosok, Ia lahir dari kayu kering.
Selanjutnya matahari dipandang sebagai perwujudan Agni. Agni adalah cahaya sorga sewaktu langit cerah. Agni diasosiasikan lebih erat berhubungan dengan manusia dari pada dengan Dewa-dewa. Ia amat sering dipanggil ayah kadang-kadang juga sebagai saudara dan bahkan sebagai seorang putra penyembahnya. Ia mengantarkan persembahan orang kepada para dewa dan mengajak para dewa hadir dalam persembahan orang, jadi Ia berfungsi sebagai seorang duta yang ditunjuk oleh para Dewa dan orang sebagai pengantar persembahan. Ditengah-tengah upacara korban ia dihormati sebagai pendamping suci para pendeta karna itu Ia sering dipanggil Hotra yang mengandung pengertian pendeta.
Berikut ini kutipan-kutipan yang berhubungan dengan Agni :

1.      Agnim ile purohitam
Yajnasya dewamrtvijam
Otaram ratnadhatamam
         Artinya :
Kami memuja Agni, pendeta yang berada di depan, yang dipuja dalam upacara korban, pendeta yang mengatur upacara korban sesuai dengan musim dan pemuja yang mempersembahkan upacara korban dan yang menguasai kekayaan yang terbaik dalam wujud permata-permata.

2.      Agnih purveghir rsibhirijyo
               Nutairuta sa dewam eha vaksati
         Artinya :
Demikianlah agni menjadi sasaran pemujaan para Rsi saman dulu dan saman sekarang ia mengundang para dewa dari semua arah datang pada upacara korban ini.


2.      Indra
Indra banyak digambarkan sebagai manusia. Ia adalah Dewa guntur yang menaklukkan raksasa yang merintangi hujan dan menaklukkan kegelapan serta memberikan air dan cahaya yang terang. Setelah minum soma ia menggerak-gerakan rahang dan janggutnya, badan, rambut dan janggutnya berwarna terang. Tangannya memegang vajra yaitu halilintar yang merupakan satu-satunya senjatanya. Dan kadang-kadang membawa panah dan angkus. Keratanya kereta emas ditarik oleh dua ekor kuda perang. Indra lebih sering dihubungkan dengan soma ketimang Dewa-dewa lain minuman ini merangsang ia untuk berperang, ketika ia membunuh vrtra, penahan hujan ia minum soma sebanyak tiga danau.
Sifat-sifat dasarnya digambarkan bermacam-macam. Sifat yang dekat dengan Indra adalah berhubungan dengan keunggulan-keunggulan fisik dan kekuatan atas dunia fisik. Ia amat bertenaga dan keras dalam tindakan, pejuang yang tak dapat dihalang-halangi. Sebagai penghancur raksasa dalam pertempuran maka Indra sering disebut perwira selanjutnya Indra dipuja sebagai pelingdung, penolong oleh sahabat-sahabat pemujanya.
Berikut ini kutipan-kutipan yang berhubungan dengan indra :
1.      Yo yata eva prathamo manasvan
Devo devam kratuna paryabhusat
Yasya susmad rodasi abhyasetam
Nrmnasya mahna sa janasa Indrah


                        Artinya :
Dewa yang arif yang demikian lahir demikian mengatasi para dewa dalam kekuatan, di depan kehebatannya dua dunia gemetar karena keberaniannya yang hebat. Dialah indra oh orang-orang laki.

2.   Yah prathivim vyathamanam adrmhad
Yah parvatam prakupitam aramnat
Yo antariksam vimame variyo
Yo dyam astabhnat sa janasa Indrah
      Artinya :
Dia yang membuat dunia yang gemetar menjadi kukuh, Dia yang membuat gunung yang goyang menjadi diam dan tenang, Dia yang membagi langit menjadi lebih besar, dan Dia pula yang mendukung langit, Dialah Indra oh orang-orang laki.

3.      Rudra
Rudra mempunyai bibir yang manis, rambutnya yang dijalin. Badannya berwarna coklat, wajahnya menyilaukan sebab ia bersinar seperti sinar matahari yang bersinar, ia memakai perhiasan emas dan memakai kalung yang menakjubkan. Ia mengendarai kereta, sanjatanya adalah petir yang mengeluarkan berkas cahaya dari langit. Tapi lebih sering dia disebut bersenjata busur dan panah yang dapat melesat cepat. Ia sangat dahsyat yang dapat menghancurkan seperti binang buas, dan sering dipanggil dengan sebutan banteng atau babi hutang yang kemerah-merahan di sorga. Ia amat dimuliankan lebih kuat dari yang kuat, cepat tidak dapat diserang dan tidak dapat diatasi kekuatannya. Dengan hukum dan wilayahnya dia mengetahui apa yang dikerjakan oleh manusia dan Dewa-dewa. Ia murah hati mudah dipanggil serta pengasih dan penyayang namun kadang-kadang bengis tetapi tidak semata-mata bengis seperti raksasa. Ia juga memberikan anugrah. Ia mengobati orang-orang yang sakit.
Tenaga untuk mengobati dan sifat kasih sayang kemudian terdapat pada hujan yang disertai dengan angin kencang dan guntur yang membawa kesuburan.
Beberapa kutipan-kutipan yang berhubungan dengan rudra :
1.      Tvadattebhi Rudra samtamebhih
Satam hima asiya bhesa jebhih
Vi asmad dveso vitaram vyambho
Vi amisvas catayasva visucih
Artinya :
Dengan obat-obatan yang amat menyegarkan yang engkau berikan, oh rudra semoga hamba mencapai seratus musim dingin. Usirlah jauh-jauh kebencian, kesedihan, penyakit dari kami dalam semua arah.

2.            Ma tva Rudra cukrudhama namobhir
                        Ma dustuti vrsabha ma sahuti
                        Un no viram arpaya bhesajebhir
                        Bhisaktamam tva bhisajam srnomi
Artinya :
Oh Rudra, semoga kami tidak membenci engkau dengan hormati, pun pula tidak dengan pujian yang menyakitkan, pun pula tidak dengan dosa kami bersama. Bangkitkanlah pahlawan-pahlawan kami dengan obat-obatan, kami mendengarkan engkau sebagai dukungan yang terbaik.

4.      Varuna
Disamping Indra Varuna adalah Dewa terbesar dalam Rg. Weda. Ia menggerakkan tangannya, Ia berjalan, duduk, makan dan minum. Matanya adalah matahari yang dengan itu Ia mengamati dan mengawasi umat manusia. Ia bermata seratus melihat amat jauh. Ia memakai mantel dan mengenakan jubah yang bersinar. Keretanya bersinar seperti matahari dan ditarik kuda-kuda yang bagus. Sering kali Varuna disebut sebagai seorang raja, terutama raja alam semesta. Wilayah kekuasaannya yang suci sering kali dibayangkan sebutan maya yaitu kekuatan gaib, maka julukannya yang paling terkenal ialah mayain.
Varuna dipuja-puja sebagai penyangga tertib fisik dan tertib moral. Ia adalah penguasa Rta yaitu tertib alam semesta. Ia memperkukuh sorga dan dunia dan  dengan tertib hukumnya sorga dan dunia masig-masing disangganya. Ia membuat ayunan emas untuk menerangi sorga. Varuna adalah penguasa cahaya baik malam maupun siang hari. Ia yang menyebabkan sungi-sungai mengalir. Hukum-hukumnya bersifat langgeng, Dewa-dewa sendiri meuruti hukumnya. Kekuasaannya demikian besar sehingga tidak ada burung yang terbang di langit atau sungai yang mengalir dapat mencapai batas wilayahnya. Ia merangkul seluruh alam semesta. Ia mengetahui segala tidak ada satupun makhluk yang luput dari pengetahuan beliau. Sebagai penguasa moral Varuna jauh berada di atas Dewa-dewa yang lain.
Berikut kutipan-kutipan yang berhubungan dengan Varuna :
1.      Dhira tu asya mahina janumsi
Vi yas tastambha rodaksi cid urvi,
Pranakamrsvam nunude brhantam
Dvita naksatram paprathaccabhuma
Artinya :
Sesungguhnya menjadi cerdas semua makhluk karena kekuasaan dia yang menopang dua dunia yang lebar itu masing-masing. Dia mengerakkan langit yang tinggi dan bintang dan Ia membentangkan dataran bumi ini.

2.            Uta svaya tanva sam vade tat
Kada nu antar varune bhuvami
Kim me havyam ahmano juseta
Kada mrlikam sumana abhy khyam
Artinya :
Maka kami bercakap dengan diri kami sendiri : kapankah kami dapat bersatu dengan Varuan? Sajian kami yang manakah yang menyenangkan tanpa meninmbulkan murkanya? Dan kapankah kami dapat melihat kasih sayangnya dengan tanang?

   Demikianlah beberapa gambaran dan penjelasan mengenai Dewa-dewa yang ada dalam Weda khususnya dalam Rg. Weda yang kami kutip secara garis besarnya saja. Dimana kita ketahui agama dalam Rg. Weda terutama terdiri atas pemujaan dewa-dewa yang semakin besar merupakan personifikasi kekuatan-kekuatan yang ada dibelakang kekuatan-kekuatan alam. Nyanyian weda terutama adalah doa-doa yang ditujukan sepada dewa-dewa ini dan juga untuk hadir pada persembahan soma dan korban api dengan mentega cair.
Pada umumnya dalam Rg. Weda dinyatakan jumlah dewa-dewa itu adalah 33 yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu Dewa-dewa Bumi, Dewa-dewa Langit dan Dewa-dewa Surga. Dewa-dewa itu dibayangkan sebagai manusia dalam penampilannya dengan tujua untuk mempermudah mempersonifikasikannya.





BAB III
PENUTUP
3.1.      KESIMPULAN
1.      Pengetahuan weda adalah pengetahuan suci yang bersifat hakiki yang memiliki kebenaran mutlak dan bersumber langsung dari Tuhan (Brahman), yang memberi tuntunan kepada umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian baik di dunia maupun diakhirat.

2.    Weda memberikan penjelasan bahwa Hindu tetap memuja dengan system Monoteisme mutlak seperti dalam kutipan weda “Ekam Eva Adwityam Brahman  yang artinya hanya satu Tuhan tiada yang kedua demikian ucapan weda. Oleh karena itu sangat jelas Hindu memuja satu Tuhan (monotaesme).

3.    Dari penjelasan pengertian singkat tantang Tuhan, Dewa dan Bhatara di atas kita dapat mengetahui gambaran secara umum mengenai konsep ketuhanan dalam ajaran agama Hindu dimana agama Hindu mengenal banyak personifikasi Tuhan sesuai dengan swabawanya atau manifestasi yang dipuja namun pada haketnya konsep ketuhanan dalam Hindu adalah monoteisme yaitu mengenal satu Tuhan sebagai hakekat tertinggi.















DAFTAR PUSTAKA

1.            Ranganathananda, Swami, 1993. Suara Vivekananda. Hanoman Sakti Bandung
2.            Santri, Raka, 2000. Tuhan Dan Berhala. Yayasan Dharma Nereda Denpasar.
3.            Kobalen, A.S, 2001. Dewa Dan Doa. Paramitha Surabaya.
4.            Chandrasekharendra, Sri Saraswati, 1971. Aspek-aspek Agama Kita. Dep. Agama R.I Jakarta
5.            Somvir, Dr. 2003. 108 Mutiara Veda, Denpasar
6.            Bantes, Ketut BA, 1995. Modul Bhagawadgita. Dirjen Bimas Hindu Dan Budha




Tidak ada komentar:

Posting Komentar