Jumat, 07 September 2012

TUHAN ADA DIMANA-MANA




TUHAN ADA DIMANA-MANA
BAB I.
                                                                  Pendahuluan.             
1.1 Latar Belakang.
Seperti yang dikatakan oleh para pelajar, mahasiswa, masyarakat beragama dalam doa mereka, bahwa selalu meyakini diri bahwa Tuhan ada di dalam dan di luar.  Jika Tuhan hanya berada di dalam, maka kesucian batin diperlukan, itu sudah cukup. Karena Tuhan juga berada di luar, maka, maka kesucian lahir juga diperlukan. Dengan demikian, karena Tuhan berada di dalam dan di luar, kita perlu memiliki kesucian lahir dan batin. Kemudian barulah kita dapat menghayati kemaha-kuasaan Tuhan.    Apakah yang dimaksud dengan kesucian lahir ini ? Sudah tentu kesucian lahir ini, menyucikan (membersihkan) badan dengan memakai pakaian yang bersih. Akan tetapi ada arti yang lebih luas. Tempat tinggalkita harus bersih. Buku-buku yang kita baca harus tetap bersih. Baik badan ataupun pikiran kita jangan dibiarkan menumpuk kotoran dan sifat-sifat yang buruk.                   Bila kita mempunyai keyakinan yang kuat, bahwa prinsip ketuhanan yang sama ada di setiap hati manusia, maka segala hambatan akan bisa diatasi. Bila kita percaya sepenuhnya pada Tuhan yang bersemayam dalam diri kita, maka segala sesuatu apa saja akan menjadi milik kita. Keyakinan merupakan kunci dan dasar akar kehidupan spiritual.                     Jika kita memegang prinsip ketuhanan itu, semuanya akan dapat kita selesaikan. Agar kita dapat menghayati ketuhanan yang berada di mana-mana dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus melaksanakan sadhana, mengembangkan rasa belas kasihan kepada semua makhluk. Juga kita harus meningkatkan kesucian lahir dan batin, menjaga agar jasmani dan rohani selalu bersih cemerlang. Hanya dengan demikianlah kita akan dapat menyadari prinsip ketuhanan yang ada di mana-mana.




BAB. II
Pembahasan.
2.1 Pengertian Tuhan
         Berdasarkan kitab suci weda Tuhan merupakan “Acintya” yaitu tak terpikirkan. Dan Tuhan itu hanya dapat diwujudkan melalui simbul atau nyasa, wujud beliau dapat dihafalkan menurut fantasi manusia. Rahasia keilahiannya terembunyi dalam kabut rahasia pengetahuan manusia, sifat-sifat kerahasiaan itu dipikirkan kedalam bentuk nyasa dengan cara-cara simbolik yang disebut maya sakti. Nyasa yang banyak dipakai dalam ajaran agama Hindu adalah simbul dengan garis-garis tertentu yang disebut yantra (cakra) perpaduan warna, kembang dan warna-warna tertentu secara arca yang wujud bentuknya kadang-kadang fantasi seperti yang kita lihat.
Dengan semakin berkembangnya peradaban dan kemampuan berpikir manusia, ajaran agama Hindu mengalami pula perkembangan dalam penghayatan dan pelaksanaannya. Dari politeisme dan henoteisme, ajaran agama Hindu berkembang menuju monotesme dan monisme, pandangan yang mengakui dengan tegas hanya ada satu Tuhan yaitu Brahman sebagai yang mutlak “Ekam Eva Adwityam Brahman  yang artinya hanya satu Tuhan tiada yang kedua demikian ucapan weda. Pandangan monisme seperti ini tidaklah dipertentangkan dengan pandangan sebelumnya karena dalam weda sudah disebutkan Tuhan Yang Maha Esa itu disebut pula dengan berbagai nama, Dia-lah pencipta (Brahma), Dia pula penopang dan pemelihara alam semesta beserta isinya (wisnu), dan pada saatnya melebur segala ciptaannya menuju asalnya (siwa).
Dalam Rg. Veda, kitab weda tertua disebutkan Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya dan Ia pula yang menciptakan dewa-dewa untuk mengendalikannya. Sebagai ajaran yang terbuka, weda bagaikan tanah subur bagi persemian berbagai aliran dan pandangan filsafat. Lambang-lambang dan gagasan dalam weda diberi pengertian dan makna baru tanpa menggoncangkan kepercayaan lama.


2.2  Tuhan ada dimana-mana.


             Kitab suci Weda dan kitab-kitab sastranya mengajarkan bahwa Tuhan itu esa, mahakuasa dan ada di mana-mana. Manusia yang serba terbatas ini tidak akan mampu memahami keesaan dan kemahakuasaan Tuhan itu atau disebut dalam kitab sastra. Bhuwanakosa menyatakan: Bhatara Siwa sira vyapaka, sira suksma tan kneng angen-angen kadyangganing akasa sira tan kagrahita dening manah muang indriya.   Tuhan ada di mana-mana, amat gaib, amat sukar membayangkan, bagaikan akasa. Tidak terjangkau oleh kecerdasan pikiran dan ketajaman indria. Demikian keberadaan Tuhan menurut kitab suci dan susastra Hindu. Meskipun manusia tidak memiliki kemampuan untuk memahami. Dalam kitab Wrehaspati Tattwa dinyatakan Tuhan secara pasti, tepat dan benar. Namun manusia menurut ajaran Hindu wajib meyakini bahwa Tuhan itu maha-ada (Wibhusakti), mahakuasa (Prabhusakti), mahatahu (Jnyana Sakti) dan mahakerja (Kriya Sakti).   Selanjutnya bagaimana manusia mendayagunakan keyakinannya pada Tuhan yang ada di mana-mana itu untuk menyelenggarakan hidupnya agar bisa mewujudkan hidup yang bahagia lahir batin di dunia sekala ini sebagai landasan untuk menuju dunia niskala. Menurut keyakinan Hindu dunia niskala itu disebut Para Loka. Di Para Loka itu ada dua bagian yang disebut sorga dan ada yang disebut neraka. Setiap orang idealnya mengharapkan setelah hidup di dunia sekala ini menuju dunia niskala yang disebut sorga itu. Untuk mencapai dunia yang disebut sorga itu harus berprilaku yang senantiasa disertai bahwa Tuhan selalu sebagai menyaksikan perilakunya. Dalam berniat, berpikir dan berkehendak saja Tuhan hendaknya diyakini mengetahuinya. Apalagi berbicara dan bertindak nyata Tuhan pasti mengetahuinya. Kalau keyakinan pada Tuhan yang selalu maha mengetahui ini kuat pada diri seseorang maka saya sangat yakin orang tersebut tidak akan melanggar ajaran agama yang diyakini sabda Tuhan.  Inilah yang disebut sebagai keyakinan aktif pada Tuhan. Kalau keyakinannya itu pasif, hanya percaya pada Tuhan sekadar percaya. Kepercayaan kepada Tuhan tidak disertai dengan kesadaran untuk mendayagunakan keyakinannya itu untuk membenahi berbagai langkah kehidupannya, maka kepercayaan pada Tuhan itu sia-sia saja.Penerapan kehidupan beragama Hindu dalam berbagai aspeknya pada intinya untuk senantiasa menanamkan keyakinan pada Tuhan agar benar-benar menjadi bagian yang integral dalam diri pribadi setiap umat. Kalau keyakinan pada Tuhan Yang Esa dan Mahakuasa itu ada di mana-mana sudah demikian menjiwai hidup seseorang maka akan mengejawantah menjadi perilaku yang subha karma.  Dalam tradisi kehidupan beragama Hindu di Bali keberadaan Tuhan di mana-mana itu telah divisualisaksikan dalam berbagai bentuk kegiatan keagamaan yang sakral. Seperti keberadaan Meru Tumpang Sebelas dan Tumpang Tiga di mandala kelima Pura Penataran Agung Besakih itu. Mpu Kuturan telah menjadikan Pulau Bali ini sebagai simbol Buwana Agung stana sakral Tuhan Yang Maha Esa yang disebut sebagai Padma Bhuwana. Tuhan yang berada di mana-mana itu divisualisasikan menjadi sembilan Kahyangan Jagat. Sembilan Khayangan Jagat ini simbol bahwa tidak ada bagian alam ini tanpa kehadiran Tuhan. Tujuannya agar umat Hindu di Bali dapat menghayati konsep Wyapi Wyapaka Nirwikara dengan metode visual. Sayang keberadaan tempat pemujaan Tuhan di sembilan penjuru Pulau Bali ini dipahami dengan sikap pasif saja. Bahkan, sepertinya banyak yang memahami bahwa Tuhan hanya ada di tempat-tempat pemujaan itu saja. Di luar tempat pemujaan itu seolah-olah Tuhan tidak hadir. Karena dianggap Tuhan hanya berstana di pura saja maka di luar pura kalau mereka berbuat apa saja Tuhan tidak mengetahuinya. Apa lagi di ruang kerja di kantor keberadaan Tuhan dianggap pasif saja. Kalaupun mereka melakukan sesuatu yang melanggar dharma seperti merekayasa uang rakyat untuk dikorupsi, diyakini Tuhan tidak akan mengetahuinya.  Tentunya akan berbeda bagi mereka yang demikian aktif meyakini bahwa Tuhan berada di mana-mana dan maha mengetahui segala perilaku manusia. Kayakinan yang demikian itu akan dapat berfungsi untuk mengontrol dirinya secara sadar untuk tidak berbuat melanggar ajaran agama sabda Tuhan itu. Mereka menaati ajaran agama itu bukan karena takut semata, tetapi karena setiap perbuatan yang baik pasti akan berpahala baik, demikian juga sebaliknya. Di samping tempat pemujaan sebagai sarana sakral beragama Hindu melukiskan kehadiran Tuhan berada di mana-mana juga banyak media beragama lainnya sebagai media sakral untuk memotivasi umat Hindu agar secara aktif mengembangkan keyakinannya.
Seperti sarana beragama yang disebut banten. Dalam Lontar Yadnya Prakerti ada dinyatakan bahwa banten itu pinaka warna rupaning Ida Batara. Artinya, banten itu sebagai simbol berbagai bentuk kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Pelindung. Banten Canang, misalnya. Dalam Banten Canang itu disimbolkan tiga kemahakuasaan Tuhan yaitu Tuhan sebagai pencipta, sebagai pelindung dan sebagai pemralina yang disebut sebagai Brahma, Wisnu dan Iswara.
Ada Banten Kwangen simbol Omkara sebagai panggilan sakral yang tertua pada Tuhan Yang Esa itu. Tuhan juga disimbolkan dalam Banten Catur. Dalam Banten Catur ini Tuhan disimbolkan memiliki Cadu Sakti seperti Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Jnyana Sakti dan Kriya Sakti. 
Demikian juga dalam Banten Dewa Dewi Tuhan disimbolkan sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Banten Daksina yang disebut Yadnya Patni itu juga lambang alam semesta stana terhormat Hyang Widhi Wasa. 
Hari raya keagamaan pun sebagai media untuk mengingatkan umat Hindu agar senantiasa ingat dan sadar pada keberadaan Tuhan secara aktif. Seperti saat Tumpek Wariga sebagai pemujaan Sang Hyang Sengkara dewanya tumbuh-tumbuhan. Tumpek Landep sebagai pemujaan Sang Hyang Pasupati, hari raya Pager Wesi sebagai pemujaan Sang Hyang Paramesti Guru. Tumpek Kandang sebagai pemujaan Hyang Rareangon.
Demikian banyak lagi media kegiatan keagamaan Hindu sebagai hari untuk mengingatkan umat agar meyakini bahwa Tuhan itu Mahaesa, Mahakuasa dan berada di mana-mana untuk meningkatkan kualitas hidupnya.  Harapannya bahwa umat Hindu akan dapat lebih mening katkan kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Máha Esa yang melingkupi seisi alam semesta di jagad raya ini.
Dalam pustaka suci Bhagawad gita, pada bab IX (nawama adhya) sloka empat (caturma sloka) tentang rajawidya (rajanya ilmu pengetahuan atau ilmu mistik), rajaguhya yoga (ilmu yang paling rahasia dan yang rahasia), yang telah dikutip atas yang pada intinya ada diajarkan tentang ketuhanan dalam agama Hindu. Bilamana disimak makna sloka suci di atas, maka dapat dipahami bagaimana ajaran ketuhanan dalam agama Hindu? Setidaknya, bahwa Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dinyatakan dalam pustaka suci bhagawadgita sebagaimana disitir di atas adalah memiliki wujud yang disebut dengan Awyakta.
Banyak gelar atau sebutan yang diberikan untuk rnenyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Banyak pula kekuatan Tuhan ataupun kemahakuasaan-Nya. Tuhan juga memiliki banyak bentuk atau banyak wujud (bahu murti). Begitu pula dalam kaitannya dengan kebera daan-Nya, bahwa Tuhan ada dimana mana (wyapi wyapaka). Tuhan memiliki beragam sifat atau karakter (Saguna Brahman). Tuhan pula sesungguhnya tidak dapat dipikirkan (acintya). Masih banyak lagi karakter Tuhan itu sendiri.
Tatkala Tuhan tidak bisa menam-pakkan diri-Nya, maka Beliau digelari sebagai Tuhan yang bersifat Awyakta. Dengan kata lain bahwa Tuhan juga memiliki sifat yang abstrak (maya). Memang Tuhan sesungguhnya adalah tidak dapat memperlihatkan diri. Beliau sering juga digelari sebagai Sang Hyang Niskala, oleh karena Beliau tidak dapat mewujudkan diri-Nya dalam bentuk yang sebenarnya dan senyatanya. Begitulah keagungan dan kebesaran dan Tuhan Yang Maha Esa di alam raya ini dengan segala isinya.
Tuhan Yang Maha Esa memiliki kekuatan (sakti) untuk menciptakan segala yang ada dan yang tidak ada ini (wahya adhyatmika). Apapun yang menjadi bagian atau isi alam raya ini maka Beliaulah asalnya (Sangkan Paraning Dumadi). Beliau juga yang menciptakan (ngutpeti) segala yang wujudnya besar ataupun yang tidak bisa dilihat oleh indra penglihat manusia. Tuhan dapat melakukan perlindungan (raksatam) serta memelihara (stithi) ciptaan Beliau. Namun demikian, bahwa Tuhan Yang Maha Esa juga memiliki kemampuan yang maha dasyat dan hebat bagi segalanya, yakni dapat menarik, mengembalikan, melebur, menghanguskan, dan mengembalikan melalui kematian (mrtyu), oleh karena Beliau memiliki kekuatan sebagai rajanya maut yang dinamai pralina. Bilamana Tuhan telah menghendaki dan memberikan titah atau sabda untuk menuju pada kelenyapan, maka hal itu tidak bisa ditolak dan tidak bisa dimohon. Begitulah kekuatan maut Beliau (pralaya) yang secara pasti lambat laun akan dialami oleh semua ciptaan (janman) di alam semesta ini.
Sesuai makna sloka suci di atas bahwa Tuhan Yang Maha Esa memiliki wujud yang tidak nyata atau Beliau tidak bisa memperlihatkan diri-Nya (awyakta). Lantas bagaimana umat manusia pada umumnya dan umat Hindu dapat mendekatkan din dengan Tuhan Yang Maha Esa? Apakah yang bisa dilakukan untuk menuju-Nya? Cara apa yang bisa ditempuh, mengingat keberadaan Beliau tidak lianya atau tidak memiliki wujud? Begitu banyak pertanyaan yang akan muncul dan memerlukan banyak jabawan pula.

Sesungguhnya, setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini, bertitik tolak kepada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak hal yang mendorong kita harus percaya terhadap adanya Tuhan itu dan berlaku secara alami. Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban di dunia ini, menyebabkan kepercayaan itu semakin mantap. Semuanya itu pasti ada sebab- musababnya, dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhanlah yang mengatur semuanya ini, Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala yang ada.
Kendati kita tidak boleh cepat-cepat percaya kepada sesuatu, namun percaya itu penting dalam kehidupan ini. Banyak sekali kegiatan yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah berdasarkan kepercayaan saja. Setiap hari kita mneyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Demikian pula adanya bulan dan bintang yang hadir di langit dengan teratur. Belum lagi oleh adanya berbagai mahluk hidup dan hal-hal lain yang dapat menjadikan kita semakin tertegun menyaksikannya. Adanya pergantian siang menjadi malam, adanya kelahiran, usia tua, dan kematian, semuanya ini mengantarkan kita harus percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber dari segala yang terjadi di alam semesta ini.
Karena agama itu adalah kepercayaan, maka dengan agama pula kita akan merasa mempunyai suatu pegangan iman yang menambatkan kita pada satu pegangan yang kokoh. Pegangan itu tiada lain adalah Tuhan, yang merupakan sumber dari semua yang ada dan yang terjadi. Kepada-Nya-lah kita memasrahkan diri, karena tidak ada tempat lain dari pada-Nya tempat kita kembali. Keimanan kepada Tuhan ini merupakan dasar kepercayaan agama Hindu. Inilah yang menjadi pokok-pokok keimanan agama Hindu.  Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada. Didalam Weda (Bhagavad Gita), Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini, sebagai berikut:
Etadyonini bhutani
sarvani ty upadharaya
aham kristnasya jagatah
prabhavah pralayas tatha. (BG. VII.6)
Ketahuilah, bahwa semua insani mempunyai sumber-sumber kelahiran disini, Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat-kelaknya nanti.
Aham atma gudakesa
sarva bhutasaya sthitah
aham adis cha madhyam cha
bhutanam anta eva cha. (BG.X.20)
Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari mahluk semua.
yach cha pi sarvabhutanam
bijam tad aham arjuna
na tad asti vina syan
maya bhutam characharam. (BG. X.39)
Dan selanjutnya apapun, oh Arjuna, aku adalah benih dari segala mahluk, tidak ada sesuatupun bisa ada, bergerak atau tidak bergerak, tanpa aku.
Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah "telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata", namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Bhuana Kosa disebutkan sebagai berikut:
"Bhatara Ciwa sira wyapaka
sira suksma tan keneng angen-angen
kadiang ganing akasa tan kagrahita
dening manah muang indriya".
Artinya:
Tuhan (Ciwa), Dia ada di mana-mana, Dia gaib, sukar dibayangkan, bagaikan angkasa (ether), dia tak dapat ditangkap oleh akal maupun panca indriya.
Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.
"Sahasrasirsa purusah sahasraksah sahasrapat,
sa bhumim visato vrtva tyatistad dasangulam". (Rg Veda X.90.1)
Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, Ia memenuhi bumi-bumi pada semua arah, mengatasi kesepuluh penjuru.
Seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepa_Nya, semua mata adalah mata-Nya, semua tangan adalah tangan-Nya. Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa, tetapi Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dengan rasa hati, bagaikan garam dalam air. Ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Demikian pula seperti adanya api di dalam kayu, kehadirannya seolah-olah tidak ada, tapi bila kayu ini digosok maka api akan muncul.
Eko devas sarva-bhutesu gudhas
sarva vyapi sarwa bhutantar-atma
karmadyajsas sarvabhutadhivasas
saksi ceta kevalo nirgunasca. (Svet. Up. VI.11)
Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua mahluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua mahluk, hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.
Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.
Yas tisthati carati yasca vancanti
Yo nilayam carati yah pratamkam
dvatu samnisadya yanmantrayete
raja tad veda varunas trtiyah (A.W. IV.16.2)
Siapapun berdiri, berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapaun yang membaringkan diri atau bangun, apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta), ia adalah uyang ketiga hadir di sana.
Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.
Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan (Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpancaindra (nirindryam), tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya.
ya etam devam ekavrtam veda
na dwitya na trtiyas cateutho napyucyate,
na pancamo  na sasthah saptamo napyucyate,
nasthamo na navamo dasamo napyucyate,
sa sarvasmai vi pasyati vacca pranati yacca na,
tam idam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva,
sarve asmin deva ekavrto bhavanti. (A.V.XIII.4)
Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat Ia dipanggil. Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, Ia dipanggil. Tidak ada yang kedelapan, kesembilan Ia dipanggil. Ia melihat segala apa yang bernafas dan apa yang tidak bernafas. Kepada-Nya-lah tenaga penakluk kembali. Ia hanya tunggal belaka. Padanya semua dewa hanya satu saja.
Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.
"Ekam eva advityam Brahma" (Ch.U.IV.2.1)
Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.
"Eko Narayanad na dvityo "Sti kaccit" (Weda Sanggraha)
Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.
"Bhineka Tungal Ika, tan hana Darma mangrwa" (Lontar Sutasoma)
Berbeda-beda tetapi satu tidak ada Dharma yang dua.
"Idam mitram Varunam
agnim ahur atho
divyah sa suparno garutman
Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim
yamam matarisvanam ahuh. (R.W.I. 1964.46)
Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Itu (Tuhan), sang bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama Matarisvam.
Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

 









RocketTheme Joomla TemplatesBAB. III
Penutup.
3.1 Kesimpulan.
               Dalam hal ini, bahwa jawaban kuncinya adalah karena Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya telah hadir dimana-mana yang memenuhi seisi alam ini. Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu dikejar-kejar kesana-kemari. Tidak perlu yang jauh dan tidak perlu yang membingung-kan untuk mencari cara dalam menuju Beliau. Semua dan bagian alam raya dan isinya tiada lain adalah Beliau juga. Bila Beliau dikatakan tidak nyata ya benar adanya, namun Beliau bisa ditemukan. Bila semua insan manusia di alam raya ini telah memiliki keyakinan yang utama (maha sraddha), maka semua jalan pasti dapat dilalui menuju-Nya. Tidak ada istilah tiada jalan untuk bisa menemukan Beliau. Dalam ketidakber-wujudan Beliau (awyakta), tentu ada jalan (marga) untuk sampai kepada-Nya.
Sebagai umat manusia yang selalu berbakti kepada-Nya, maka ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Cara perseorangan tentu bisa. Cara bersama sama juga dapat dilakukan. Cara hening dan sepi boleh juga dilakukan. Cara dengan melagukan nyanyian suci (dharma gita) atau cara yang sejenis juga merupakan cara yang tidak keliru, asalkan berlandaskan atas kebenaran yang sujati (dharma). Cara pengendalian (tapa), cara berpantang (brata), cara kontak spiritual (yoga), cara penyatuan yang tulus (samadhi), cara persembahan dengan memakai sarana banten atau sesajen (upakara yajna), cara kerja yang tekun (karmani), cara belajar yang ulet (adhydyanam), cara dermawan (dhana punya), cara perjalanan suci (tirtha yatra), cara bakti sosial (sarwa sukarma), cara kasih sayang (paramita), cara persahabatan yang positif (bahu sakha), cara pendidikan (rasta siksa ca ashram), cara berdialog (dharma tula), cara melakukan interaktif kemuliaan (dharma witarka), dan masih banyak lagi cara lain untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa, walaupun keberadaan Beliau bersifat tidak nyata.
Dalam realitas bagi umat Hindu di Indonesia, bahwa cara yang telah dilakukan meliputi berbagai cara seperti yang telah dipaparkan di atas. Tentu ada pertanyaan muncul, mana diantara semua cara tersebut yang terbaik? Sederhana saja jawabannya. Tergantung kembali kepada umat itu sendiri. Mana cara yang terbaik adalah cara yang telah lazim dilakukannya setiap hari (prati dinam ya puja dewata-dewati) untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Atau dengan cara merafalkan berbagai mantra secara rutin (surya sevana) yang digolongkan sebagai nitya karma. Itu kembali kepada kondisi masing-masing umat yang melakukannya yang sudah tentu dapat menyesuaikan dengan keadaan masing-masing.







 

RocketTheme Joomla Templates



Tidak ada komentar:

Posting Komentar